Presiden Kyrgyzstan Mundur, Sadyr Japarov Baru Keluar Penjara Ambil Alih Kekuasaan

Minggu, 18 Oktober 2020 – 04:01 WIB

Mantan Presiden Kyrgyzstan, Sooronbai Jeenbekov (Foto:Istimewa)

Mantan Presiden Kyrgyzstan, Sooronbai Jeenbekov (Foto:Istimewa)

KYRGYZSTAN, REQNews - Presiden Kyrgyzstan, Sooronbai Jeenbekov, secara resmi mengundurkan diri pada Kamis, 15 Oktober 2020, membiarkan kekuasaan diambil alih oleh pesaing nasionalisnya yang baru saja dibebaskan dari penjara oleh pendukung.

Perpindahan kekuasaan yang tiba-tiba ini mengakhiri kekacauan dan kerusuhan yang telah terjadi lebih dari seminggu akibat sengketa pemilihan.

Kekuasaan negara tersebut kemudian jatuh kepada Sadyr Japarov, yang diangkat menjadi perdana menteri Kyrgyzstan.

Ia mengatakan pada para pendukungnya yang nampak puas dan bersorak bahwa kini kekuasaan kepresidenan ada di tangannya.

Pengangkatan dirinya sebagai perdana menteri menyusul pengunduran diri Jeenbekov dan ketua parlemen yang seharusnya menjadi pengganti presiden tersebut.

“Hari ini, Kanatbek Isayev (ketua parlemen) menandatangani surat pengunduran diri. Semua kekuasaan presiden sepenuhnya diberikan kepada saya hari ini,” ujar Japarov, dikutip dari Reuters.

Untuk diketahui, presiden sebelumnya, Jeenbekov, yang telah menjabat sejak 2005 di negara kecil Asia Tengah itu, digulingkan oleh pemberontakan rakyat.

Dalam sebuah pernyataan, dia mengatakan bahwa pengunduran dirinya adalah upaya mencegah kekerasan akibat aksi unjuk rasa rakyat Kyrgyzstan.

Saya tidak ingin tercatat dalam sejarah Kyrgyzstan sebagai presiden yang menumpahkan darah dan menembak rakyatnya sendiri,” ujar Jeenbekov dalam suatu kesempatan.

Kyrgyzstan telah dilanda kekacauan sejak pemilihan umum parlemen pada 4 Oktober 2020 lalu, yang ditolak pihak oposisi setelah menyatakan Jeenbekov adalah pemenangnya.

Akibat pemilu tersebut, pendukung oposisi turun ke jalan dan menggelar aksi unjuk rasa di sejumlah gedung-gedung pemerintah, mendorong pihak berwenang untuk membatalkan hasil pemilu tersebut.

Sementara itu, Japarov yang tengah menjalani hukuman karena dugaan penculikan politisi saat kerusuhan di tahun 2013 pun dibebaskan dari penjara.

Ia pun dipilih oleh fraksi parlemen menjadi perdana menteri, menggantikan sementara presiden yang mengundurkan diri.

Sooronbai Jeenbekov awalnya memutuskan akan bertahan menjabat presiden hingga pemilihan umum yang baru diadakan tiga bulan mendatang.

Akan tetapi, Japarov menolak penundaan tersebut dan mendesaknya untuk segera mengundurkan diri.

“Presiden tidak bisa bertahan. Dia sangat lemah, tidak ada semangat,” tutur Dastan Bekeshev, anggota parlemen yang menyatakan dirinya netral dan tidak memihak Jeenbekov maupun Japarov.

Menanggapi lengsernya presiden Kyrgyzstan tersebut, Felix Kulov, mantan perdana menteri mengatakan bahwa dia tidak pernah mendengar apapun dari Jeenbekov tentang rencana mundurnya.

“Satu hal yang jelas, beberapa kekuatan, saya yakin cepat atau lambat kita akan tahu datangnya dari mana, memutuskan untuk merebut kekuasaan dengan paksa dan menempatkan presiden pada pilihan untuk mundur atau perang habis-habisan,” ujar Kulov.

Sementara itu, konstitusi Kyrgyzstan mengharuskan adanya pemilihan presiden baru dalam waktu tiga bulan ke depan.

Ketentuan ini nampaknya akan menghalangi, Japarov, presiden sementara, untuk bertahan dalam jabatannya.