Tantang Irjen Napoleon, Boyamin: Sekarang Aja Jenderal, Jangan Nanti!

Minggu, 18 Oktober 2020 – 19:30 WIB

Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman

Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman

JAKARTA, REQnews - Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman menantang Irjen Napoleon Bonaparte untum buka-bukaan mengungkap perkara penghapusan red notice Djoko Tjandra. Bahkan, Boyamin meminta jenderal bintang dua itu untuk membukanya saat ini. 

Boyamin berharap Napoleon bisa membuka secara terang benderang perkara ini. Sehingga, institusi Polri bersih dari oknum nakal sesuai amanat Jenderal Idham Azis.

"Pak Napoleon barangkali dalam konteks itu akan bisa membuka ketiganya sekaligus, sehingga akan terjadi bersih-bersih di kepolisian dari oknum yang nakal sebagaimana amanat Kapolri Idham Azis," ujar Koordinator MAKI, Boyamin Saiman dalam keterangan pers tertulisnya, Minggu 18 Oktober 2020.

"Saya sangat menunggunya dan jangan nanti, sekarang saja," kata dia lagi. 

Setidaknya ada tiga hal yang bisa diungkap Napoleon terkait perkara yang menjeratnya. Pertama, eks Kadivhubinter Polri ini bisa membuka adanya oknum lain yang diduga turut terlibat termasuk dari institusi kepolisian.

"Kedua, Djoko Tjandra yang menjadi sentral perkara ini diduga memiliki perkara dengan instansi lainnya," ujarnya.

Ketiga, sambung Boyamin, Napoleon diduga memiliki data lain untuk membongkar kasus ini. Data itu, sebut Boyamin, bisa saja diperoleh dari rekan sejawat Napoleon di institusi kepolisian.

"Napoleon diduga memiliki data lain rekan-rekannya di kepolisian," kata dia.

Sebelumnya Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan telah selesai melakukan proses administrasi alat bukti dari para tersangka dalam perkara dugaan penghapusan red notice Djoko Tjandra. Para tersangka siap disidangkan.

Salah satu tersangka, Irjen Napoleon Bonaparte, sempat menanggapi pertanyaan awak media yang mencecarnya terkait kesiapan menjalani sidang. Napoleon menyebut akan ada waktu untuk membuka semua perkara ini.

"Ada waktunya, ada tanggal mainnya, kita buka semuanya nanti," kata Napoleon kepada wartawan.

Namun Napoleon tidak menyebutkan maksud pernyataannya itu. Dia langsung masuk ke mobil tahanan. Dalam kasus dugaan gratifikasi pencabutan red notice Djoko Tjandra, dua tersangka diduga berperan sebagai penyuap dan dua tersangka lainnya penerima suap.

Dua penyuap yang dimaksud adalah Djoko Tjandra serta pengusaha Tommy Sumardi. Sedangkan dua penerima suap adalah mantan Kadiv Hubungan Internasional Polri Irjen Napoleon Bonaparte dan mantan Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri Brigjen Prasetijo Utomo.