IFBC Banner

Etiopia Terancam Perang Saudara di Tigray

Kamis, 05 November 2020 – 20:01 WIB

anak-anak Etiopia (Foto:Istimewa)

anak-anak Etiopia (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQNews - Etiopia terancam perang saudara setelah Perdana Menteri Abiy Ahmed akan mengirim pasukan ke wilayah Tigray. Pemerintah pusat menuduh pasukan Tigray menyerang pangkalan militer pemerintah setelah berbulan-bulan melakukan provokasi.

Tigray merupakan basis dari Front Pembebasan Rakyat (People's Liberatin Font). Pengumuman PM Abiy membuat resah kawasan Tanduk Afrika yang notabene rentan konflik.

Menurut laporan AP News, Kamis, 5 November 2020, sambungan internet dan telepon telah diputus di Tigray. Pernyataan kubu Tigray di televisi menuduh pemerintah pusat ingin menggunakan kekuatan untuk menundukan Tigray. Wilayah udara Tigray juga disebut ditutup.

Kemungkinan adanya perang saudara di Etiopia cukup ironis, sebab PM Abiy Ahmed pernah mendapatkan Nobel Perdamaian. Abiy Ahmed berkuasa di Etiopia sejak 2018.

PM Etiopia berkata ada "beberapa martir" yang terbunuh dalam serangan di Mekele, wilayah utara Tigray, serta kota Dansha.

Tigray adalah wilayah Etiopia yang sensitif. Pada 2018, daerah ini bertempur dengan Eriteria akibat perbatasan. Masalah ini diselesaikan PM Abiy Ahmed sehingga ia meraih Nobel.

Pada Rabu 4 November 2020, PM Abiy menyampaikan pesan bahwa pasukan Etiopia telah melancarkan serangan balik dan menghasikan kerusakan besar. Operasi militer akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

Etiopia juga menetapkan keadaan darurat di Tigray selama enam bulan karena adanya "aktivitas ilegal dan berbahaya" yang mengancam kedaulatan negara.

Mantan diplomat AS Payton Knopf berkata jangan sampai menyepelekan konflik di Etiopia sebagai perang suku saja.

"Ini lebih mirip dengan bagaimana perang dalam negeri akan terlihat," ujarnya.

PBB juga meminta agar segera ada de-eskalasi di Etiopia.

Analis dari International Crisis Group memprediksi konflik yang terjadi bisa menjadi bencana mengingat posisi Tigray yang kuat.

"Perang ini adalah hasil paling buruk dari ketegangan yang terjadi," ujar William Davison, analis senior International Crisis Group.

"Melihat posisi keamanan Tigray yang relatif kuat, konflik ini bisa saja menjadi berkelanjutan dan bencana," ujarnya.