Otoritas Korupsi Inggris Selidiki Kasus Suap PT Garuda Indonesia

Jumat, 06 November 2020 – 12:32 WIB

Bombardier (Foto:The Wall Street Journal)

Bombardier (Foto:The Wall Street Journal)

INGGRIS, REQNews - Orotitas penyelidikan korupsi Inggris SFO menyelidiki produsen pesawat Kanada, Bombardier, terkait dugaan suap dan korupsi kesepakatan dengan maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia.

Bombardier mengungkap penyelidikan kasus ini, Kamis, 5 November 2020, bersamaan dengan laporan keuangan kuartal ketiga.

Perusahaan pesawat Kanada itu mengatakan telah meluncurkan tinjauan internal atas transaksi dengan Garuda, termasuk akuisisi dan sewa pesawat Bombardier CRJ1000 pada 2011 dan 2012.

Seorang juru bicara Bombardier mengatakan perusahaan tersebut bekerja sama dengan penyelidikan SFO.

“Korporasi telah bertemu dengan SFO untuk membahas status tinjauan internal Korporasi dan potensi bantuannya dengan investigasi SFO secara sukarela,” kata Bombardier dalam pengungkapan tersebut seperti dikutip dari The Wall Street Journal, Kamis, 5 November 2020.

Kasus ini diselidiki sejak mantan eksekutif Garuda, Emirsyah Satar, dinyatakan bersalah. Seperti diketahui Emirsyah dijatuhi hukuman delapan tahun penjara pada Mei, denda sekitar $ 69.700 dan diperintahkan untuk membayar ganti rugi sekitar 2,1 juta dolar Singapura, setara dengan $ 1,6 juta.

The Wall Street Journal mengatakan mereka sudah menghubungi seorang pengacara yang mewakili Emirsyah Satar, namun tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Badan antikorupsi Indonesia mengatakan pada saat itu bahwa ia menerima suap senilai jutaan dolar melalui perantara terkait kontrak dan pesanan yang melibatkan Bombardier, pabrikan Prancis Airbus SE dan Avions de Transport Regional, dan Rolls-Royce yang berbasis di Inggris. Banyak transaksi disembunyikan melalui bisnis struktur berlapis di seluruh yurisdiksi, kata badan itu.

"Airbus telah mengambil langkah-langkah signifikan untuk mereformasi dirinya sendiri dan untuk memastikan bahwa tindakan ini tidak akan terulang kembali," kata juru bicara Airbus dalam email.

"Airbus telah meningkatkan sistem kepatuhannya secara signifikan di bawah pengawasan Panel Peninjau Kepatuhan Independen."

Sementara yang lainnya yakni seorang juru bicara Rolls-Royce menolak berkomentar. Seorang juru bicara ATR tidak segera menanggapi permintaan komentar. Dan SFO tidak menanggapi permintaan komentar tambahan.

Sebelumnya, Rolls-Royce Holdings PLC pada tahun 2017 setuju untuk membayar lebih dari $ 800 juta untuk menyelesaikan penyelidikan korupsi dengan pihak berwenang di AS, Inggris, dan di tempat lain dalam kasus yang memeriksa transaksi dengan perantara di sejumlah pasar luar negeri.

Dan Airbus pada Januari menyetujui kesepakatan sebesar 3,6 miliar euro, setara dengan $ 4 miliar, dengan jaksa penuntut Amerika, Inggris, dan Prancis untuk menyelesaikan dugaan penyuapan dan pelanggaran kontrol ekspor.