Kasus Djoktjan, Ini Jenderal Polri yang Bikin Takut Staf Pusdokkes! Inisial Brigjen P

Sabtu, 07 November 2020 – 10:05 WIB

Ilustrasi Polisi (Foto:Istimewa)

Ilustrasi Polisi (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Pamin Satkes Pusdokkes Mabes Polri, Sri Rejeki Ivana Yuliawati buka-bukaan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur. Ia dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan lanjutan kasus surat jalan palsu Djoko Tjandra. 

Sri mengungkap alasannya membuat surat keterangan Covid-19 untuk terdakwa Djoko Tjandra. Ia mengaku merasa takut, karena permintaan pembuatan surat Covid-19 merupakan permintaan perwira tinggi setingkat Jenderal, yakni mantan Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Bareskrim Polri Brigjen Prasetijo Utomo.

Permintaan untuk surat keterangan Covid-19 disampaikan melalui asisten Prasetijo yakni Eti Wahyuni yang sebelumnya sudah dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sri kala itu menjawab bila masyarakat umum tidak bisa membuat surat keterangan Covid-19 di Pusdokkes Polri.

"Saya ditelepon Yeti yang isinya minta dibantu pembuatan surat bebas Covid. Yeti bilang kalau orang umum boleh, saya jawab tidak boleh. Saya bilang kalau mau surat Covid pasiennya harus datang ke Pusdokkes Mabes Polri. Yeti bilang bapak mau bicara," bebernya saat di ruang sidang PN Jakarta Timur, Jumat 6 November 2020.

Kemudian Sri meminta kepada Eti menyerahkan data orang-orang yang akan dibuatkan surat tersebut, usai dihubungi Prasetijo.

"Saya meminta data nama bapak Prasetijo, terus diberikan data nama pekerjaan, alamat, jabatan dan keperluannya apa," katanya.

Adapun data-data yang diberikan kepadanya yakni meliputi nama-nama Prasetijo, Djoko Tjandra, dan Anita Kolopaking. Mereka minta dibuatkan surat keterangan Covid-19 untuk keperluan dinas.

"Atas nama Prasetijo Utomo, Anita Kolopaking dan Djoko Tjandra dan keperluannya untuk tugas dinas," ujarnya.

Majelis Hakim pun bertanya kepada Sri terkait alasan mengapa surat tersebut tetap diurus meskipun Djoko Tjandra dan Anita adalah masyarakat umum.

"Saksi selama komunikasi dengan terdakwa kalau yang diperiksa harus datang responnya bagaimana?"

Kepada hakim, Sri mengaku takut diberi sanksi oleh Prasetijo dan ia hanya menurut apa yang diminta oleh Brigjen Prasetinjo. "Iya-iya saja," ungkapnya

"Tapi dia pernah diperiksa?" tanya Hakim

"Tidak" jawab Sri.

"Kalau tidak, kok diproses?" saut Hakim kembali.

"Karena Pak Prasetijo itu adalah petinggi di Polri, kalau saya tidak laksanakan saya takut kena sanksi," jawab Sri.

Sri mengaku takut dilaporkan ke pimpinannya terlebih yang melaporkan adalah Prasetijo. "Takut kenapa?" tanya hakim.

"Karena beliau (Prasetijo) petinggi. Beliau bisa komplain ke pimpinan," jawab Sri.

"Kenapa kok takut?" hakim kembali bertanya.

"Kalau di internal Polri, kami harus loyal," kata Sri.

Mendengar jawaban Sri, membuat majelis hakim kembali menanyakan kepada Sri terkait keterangan loyal tersebut. Walau tindakan yang dilakukan oleh Sri itu melanggar aturan.

"Meski melanggar aturan? Loyal meski salah?" tanya hakim.

"Karena beliau petinggi Polri," ungkap Sri.

"Tidak ada ancaman?" lanjut hakim.

"Tidak," kata Sri.

"Yang dimaksud loyal selalu menuruti perintah? Kan ada prosedur yang salah? Kalau beliau cuma Brigjen, tidak masuk akal saya," beber hakim.

"Hanya menjalankan tugas," singkat Sri.