Tak Becus Tangkap Harun Masiku, ICW Desak Satgas Pemburu Dibubarkan

Jumat, 13 November 2020 – 16:01 WIB

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Kurnia Ramadhana

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Kurnia Ramadhana

JAKARTA, REQnews - Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) ICW Kurnia Ramadhana mengatakan, hari ini genap hari ke-300 pencarian Harun Masiku sejak ditetapkan masuk dalam DPO, namun buron kasus suap pergantian antarwaktu (PAW) DPR itu belum bisa ditangkap.

Menurutnya, kegagalan KPK dalam meringkus Harun Masiku merupakan bukti ketidakmampuan Ketua KPK Firli Bahuri memimpin lembaga antirasuah itu. "Sekaligus telah mengubah KPK menjadi lembaga yang tidak lagi disegani oleh para pelaku kejahatan," ujar Kurnia, Jumat, 13 November 2020.

Sejak KPK memasukkan Harun Masiku ke dalam daftar buronan pada 17 Januari 2020, sambungnya, praktis per hari ini genap sudah 300 hari mantan calon anggota legislatif PDIP seakan hilang bak ditelan bumi. Oleh krena itu, ICW mendesak KPK membubarkan tim satuan tugas (satgas) pemburu Harun Masiku. Tak hanya itu, pimpinan KPK juga diminta agar mengevaluasi kinerja Deputi Penindakan KPK Karyoto.

"Maka dari itu, ICW mendesak agar KPK segera membubarkan tim satuan tugas yang diberi mandat untuk mencari keberadaan Harun Masiku. Selain itu, pimpinan KPK mesti mengevaluasi kinerja dari Deputi Penindakan. Sebab, pada dasarnya, tim satgas tersebut berada di bawah pengawasan yang bersangkutan," katanya.

Harun Masiku merupakan tersangka di kasus suap PAW DPR yang hingga kini belum tertangkap. Padahal tiga tersangka lain, yakni Saeful Bahri, eks komisioner KPU Wahyu Setiawan, dan Agustiani Tio Fridelina, sudah divonis bersalah.

Saeful divonis 1 tahun 8 bulan penjara dan denda Rp 150 juta subsider 4 bulan kurungan. Saeful, yang juga kader PDIP, dinyatakan hakim bersalah memberikan suap kepada Wahyu Setiawan saat menjabat komisioner KPU.

Hakim meyakini Saeful memberikan suap secara bertahap dan bersama-sama Harun Masiku, yang hingga kini belum tertangkap. Adapun pemberian pertama sebesar SGD 19 ribu atau setara dengan Rp 200 juta diserahkan pada 17 Desember 2019. Pemberian kedua sebesar SGD 38.350 atau setara dengan Rp 400 juta diserahkan pada 26 Desember 2019 oleh Saeful kepada Agustiani Tio Fridelina.

Kemudian, Wahyu Setiawan divonis 6 tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider 4 bulan kurungan. Sementara itu, Agustiani Tio Fridelina divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider 4 bulan kurungan.

Pembacaan vonis untuk Wahyu dan Tio dilakukan pada 24 Agustus 2020. Keduanya terbukti bersalah menerima suap dari Saeful dan Harun.