Buya Syafii: Mendewakan Keturunan Nabi, Bentuk Perbudakan Spiritual

Minggu, 22 November 2020 – 18:32 WIB

Habib Rizieq Shihab saat Maulid Nabi (Foto:Istimewa)

Habib Rizieq Shihab saat Maulid Nabi (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Masyarakat tak terjebak dalam sifat berlebih-lebihan. Termasuk terlalu mengagung-agungkan sang habib yang dikenal sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. 

Imbauan itu disampaikan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Ma'arif. Ini juga terkait fenomena beberapa tokoh yang menyebut dirinya keturunan Rasulullah memang memiliki banyak sekali pengikut.

Menurut pria yang akrab disapa Buya ini, jika terlalu mengagung-agungkan sang habib, maka tak ubahnya suatu perbudakan spiritual yang tentu disebabkan oleh fanatisme berlebihan.

“Bagi saya mendewa-dewakan mereka yang mengaku keturunan Nabi adalah bentuk perbudakan spiritual. Bung Karno puluhan tahun yang lalu sudah mengeritik keras fenomena yang tidak sehat ini. Ahmad Syafii Maarif,” ujar Buya Syafií itu dalam akun twitternya @SerambiBuya pada Sabtu 21 November 2020.

Senada, Miftah Maulana Habiburrahman atau lebih dikenal dengan Gus Miftah pun menyebut bahwa seorang habib sudah selayaknya menjadi panutan pengikutnya dalam bersikap.

Para habaib (bentuk jamak habib), lanjutnya, tak boleh direndahkan sebab di dalam dirinya mengalir darah Nabi Muhammad SAW. Namun, dia juga mengaskan bahwa seorang habaib juga tak pantas melakukan hal serupa, menghina orang lain.

“Gus boleh gak kita menghina habaib? tidak boleh! kenapa? karena dalam tubuh habaib ada darahnya Nabi. Lalu bolehkah habaib menghina orang lain? tidak boleh, masa di dalam tubuhnya ada darah nabi kok menghina orang lain? kan gak pantes. Terus siapa orang yang boleh kita hinakan? tidak ada satu pun orang yang boleh kita hinakan,” ujar Gus Miftah saat live di akun instagtram pribadinya beberapa waktu lalu.