Cina Kecam Paus Fransiskus Karena Ungkit Uyghur

Rabu, 25 November 2020 – 04:02 WIB

Paus Fransiskus (Foto:Istimewa)

Paus Fransiskus (Foto:Istimewa)

CINA, REQNews - Pemerintah Cina mengecam Paus Fransiskus karena mengungkit soal persekusi kelompok minoritas Muslim Uyghur dalam sebuah buku yang akan terbit awal Desember mendatang.

Beijing, seperti dilansir dari Al Jazeera, Selasa, 24 November 2020 mengatakan bahwa tudingan Paus Fransiskus dalam buku itu sama sekali tidak memiliki dasar faktual.

"Masyarakat dari semua kelompok etnis menikmati hak penuh untuk hidup, berkembang, dan memeluk agama," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian dalam sebuah jumpa pers.

Paus Fransiskus untuk pertama kalinya menyebut komunitas minoritas Uyghur di Cina mengalami persekusi dalam buku yang disusun bersama penulis biografi terkemuka Austen Ivereigh.

Masalah persekusi komunitas minoritas Muslim Uyghur ini diungkit Fransiskus setelah selama bertahun-tahun didesak oleh para aktivis hak asasi manusia.

"Saya sering memikirkan mereka yang dipersekusi: kelompok Rohingya, orang-orang Uyghur yang malang, dan Yazidi - apa yang dilakukan ISIS kepada mereka sungguh sangat keji," tulis Paus dalam buku itu.

Ulasan tentang kelompok minoritas Uyghur itu dijabarkannya dalam sebuah bagian yang juga membahas tentang persekusi terhadap orang-orang Kristen di negara Muslim.

Paus sebelumnya sudah beberapa kali menyerukan dihentikannya persekusi terhadap kelompok minoritas Yazidi di Timur Tengah dan Rohingya di Myanmar. Tetapi ini pertama kalinya ia berbicara soal Uyghur.

Banyak pengamat yakin, Vatikan sebelumnya enggan berbicara soal Uyghur karena khawatir Cina akan mempersulit pembaruan kesepakatan antara dua negara terkait penunjukkan uskup di negara komunis tersebut. Adapun pembaruan kesepakatan tersebut sudah dilaksanakan pada September kemarin.

Cina dituding telah menahan lebih dari 1 juta warga Uyghur di sejumlah kamp. Cina bahkan dituding telah melakukan upaya genosida. Beijing sudah membantah tudingan ini dan mengatakan yang mereka bangun adalah pusat-pusat pendidikan, bukannya kamp konsentrasi atau penjara.

Sebelumnya diberitakan Paus Fransiskus, dalam buku berjudul Let Us Dream yang akan terbit 1 Desember, mengatakan ia kerap memikirkan "orang-orang Uyghur yang malang" ketika membahas soal komunitas-komunitas yang mengalami persekusi di dunia.