Makan Korban 2 Ribu Orang, Bareskrim Usut Kasus Kampoeng Kurma

Jumat, 27 November 2020 – 09:01 WIB

Bareskrim Polri (foto: istimewa)

Bareskrim Polri (foto: istimewa)

JAKARTA, REQnews - Bareskrim Polri tengah mengusut kasus investasi properti bodong PT Kampoeng Kurma yang sudah masuk tahap penyidikan sejak dua bulan lalu. Kasus ini telah mengakibatkan dua ribu orang jadi korban dan mengalami kerugian yang tak sedikit.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono berkata, Bareskrim memeriksa 35 orang saksi dalam kasus ini. 

"Karena memang Kampoeng Kurma ini tidak memiliki izin usaha perantara perdagangan properti. Ini yang sekarang sedang disidik karena memang bulan September lalu proses ini sudah dinaikan ke penyidikan dan kita sedang berproses. Penyidik sedang melakukan pemeriksaan saksi-saksi sekitar kurang lebih 35 orang," kata Awi di Jakarta, Kamis 26 November 2020.

Ia menjelaskan, kasus ini berawal dari laporan Satgas Waspada Investasi yang dikomandoi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), soal adanya investasi properti bodong pembelian lahan kavling yang dilakukan oleh PT Kampoeng Kurma pada awal 2020.

Dari penyelidikan Bareskrim melalui Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus), ditemukan ada dua ribu orang yang menjadi korban investasi ilegal tersebut.

"Jadi kasus ini bermula dari awal 2020 ada info dari satgas waspada investasi OJK. Dari situ penyidik unit 4 industri keuangan non bank subdit 5 Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan penyelidikan. Terkait dengan adanya dugaan investasi bodong oleh Kampoeng Kurma Group berupa investasi pembelian lahan kavling dengan korban kurang lebih mencapai dua ribu orang," ujar Awi.

Lebih lanjut, Awi mengungkapkan Kampoeng Kurma Group didirikan pada tahun 2017 oleh seseorang yang tidak disebut identitasnya. Terdapat enam perusahaan yang tersebar di beberapa wilayah mulai dari Bogor hingga Banten.

Dikatakan Awi, total penjualan yang diperoleh dari investasi bodong ini mencapai ratusan miliar. Modus investasi bodong dengan menawarkan fasilitas lahan kavling yang nantinya diisi dengan pohon kurma, pesantren hingga arena olahraga.

"Dengan nilai total dana penjualan yang diperoleh sekitar Rp 333 Miliar lebih. Di sana memang Kampoeng Kurma Group ini menawarkan fasilitas berupa sekitar 4.208 kavling dengan bonus masing-masing kavling itu diberikan satu pohon kurma kemudian juga diantaranya lokasi-lokasi tadi akan didirikan pesantren, masjid, arena olahraga, kemudian kolam berenang dan lain-lain," ujarnya.

"Fakta yang diketemukan oleh penyelidik waktu itu bahwasannya ternyata sebagian besar dari transaksi dua ribu lebih orang korban itu tidak terdapat fisik dan bonus yang telah dijanjikan. Jadi yang bersangkutan mencari pembeli, ada yang menyampaikan DP ada juga yang bayar full, ini juga lagi dipisah karena memang ini datanya parah, amburadul, dia yang menjual sendiri, dia yang mengelola sendiri, dia yang buka... sendiri dia yang pakai uangnya sendiri, ini yang lagi ditelusuri," kata Awi menambahkan.