Peneliti Cina Sebut Asal Virus Corona dari India, Ini Buktinya

Minggu, 29 November 2020 – 00:01 WIB

Ilustrasi Virus Coprona (Foto:Istimewa)

Ilustrasi Virus Coprona (Foto:Istimewa)

SHANGHAI, REQNews - Hingga hari ini anggapan umum yang beredar bahwa wabah Covid-19 atau Corona berasal dari Wuhan, Cina. Namun, tim peneliti asal Cina yang diketuai Dr Shen Libing memiliki pandangan berbeda.

Dikutip dari The Sun, Sabtu, 28 November 2020, dalam penelitian berjudul 'The Early Cryptic Transmission and Evolution of SARS-CoV-2 in Human Hosts' yang diterbitkan The Lancet, mereka menilai pendekatan untuk melacak asal virus corona selama ini keliru karena memakai virus yang ada di kelelawar di Yunnan, Cina beberapa tahun lalu.

Menurut mereka, virus yang ada di kelelawar bukan nenek moyang dari virus yang masuk ke manusia. Pendekatan ini dinilai mereka gagal melacak asal usul dari pandemi.

Mereka menawarkan metode baru dengan menghitung jumlah mutasi dalam setiap strain virus. Mereka mengklaim strain yang lebih sedikit bisa menunjukkan asal mula virus. Ada 17 negara yang menjadi objek penelitian.

Penelitian itu menyebut ada delapan negara dengan mutasi paling sedikit, yaitu Australia, Bangladesh, Yunani, AS, Rusia, India, Italia, dan Ceko.

Namun, area asal muasal wabah harus mempunyai keragaman genetik yang luar biasa. India dan Bangladesh menjadi yang potensial. Mereka menyebut, populasi India yang banyak berusia muda dengan kondisi cuaca yang ekstrem menciptakan kondisi yang dibutuhkan bagi transmisi virus ke manusia.

"Hasil penelitian kami menunjukkan Wuhan bukan tempat transmisi virus antar manusia pertama kali terjadi. Berdasarkan informasi geografis dengan strain yang paling sedikit bermutasi dan keanekaragaman strain menunjukkan anak Benua India mungkin menjadi tempat penularan SARS-CoV-2 antar manusia yang paling awal terjadi, sekitar tiga atau empat bulan sebelum wabah Wuhan," tulisnya.

Penelitian tersebut langsung dibantah virolog India, Mukesh Thakur. Menurut dia, penelitian tersebut memiliki kesimpulan yang salah.

Profesor Ilmu Genetika Manusia dan Biostatistik UCLA, Marc Suchard menilai, penelitian atas strain virus secara acak yang digunakan itu tidak mungkin mengetahui nenek moyang dari virus.

Suchard menilai metode itu memang cukup menjanjikan, namun ketidakpastiannya juga sangat besar. Saat ini, kebenaran yang diterima secara umum di kalangan ilmuwan adalah virus tersebut berpindah dari hewan ke manusia di Pasar Grosir Seafood Huanan di Wuhan.

Di pasar tersebut, banyak satwa liar dijual dari kelelawar hingga ular. Para ilmuwan saat ini masih mencari hewan yang membawa Covid-19 pertama kali.

Sejauh ini, penelitian baru sampai pada adanya genetik identik antara virus corona yang ada di manusia dengan di kelelawar. Hasil penelitian itu diterbitkan Institut Virologi Wuhan.