Tiga Tahun Berpisah, Keluarga Uighur Ini Bisa Kembali Bersatu di Australia

Sabtu, 12 Desember 2020 – 00:02 WIB

 Seorang pria Uighur di Australia bisa berkumpul dengan Keluarganya (Foto:Istimewa)

Seorang pria Uighur di Australia bisa berkumpul dengan Keluarganya (Foto:Istimewa)

AUSTRALIA, REQNews - Seorang pria Uighur di Australia sangat senang bisa dipersatukan kembali dengan istri dan anaknya setelah berpisah selama tiga tahun. Pada Kamis, 10 Desember 2020, warga negara Australia Sadam Abudusalam dapat bertemu kembali dengan istrinya Nadila Wumaier, dan putranya Lutfy, 3, di Sydney.

Dikutip dari BBC, Wumaier dan buah hatinya boleh meninggalkan Cina setelah negosiasi diplomatik.

Keluarga tersebut membagikan foto pertemuan emosional mereka di Bandara Sydney. Abdusalam diketahui belum pernah bertemu dengan putranya yang lahir pada 2017 lalu.

“Terima kasih Australia. Terima kasih semuanya,” cuit Abdusalam.

Abdusalam diketahui tinggal di Australia selama satu dekade, lalu pergi ke Chna pada 2016 untuk menikahi pacarnya, Wumaier. Dia kembali ke Australia untuk bekerja pada 2017, sedangkan istrinya Wumaier menunggu di China untuk mendapatkan visa pasangannya.

Dia melahirkan di akhir tahun yang sama, tetapi visa kunjungan Abdusalam ditolak oleh pemerintah China.

Tak lama setelah dia melahirkan, keluarganya mengatakan jika Wumaier ditahan oleh otoritas China selama dua minggu. Dia kemudian dibebaskan, tetapi paspornya disita dan tidak diizinkan meninggalkan rumahnya.

Wumaier yang tercatat sebagai anggota minoritas Muslim Uighur Cina, mengatakan dia sebelumnya berada dalam tahanan rumah.

Selama dua tahun terakhir, Australia telah mengeluarkan permintaan resmi ke Cina untuk mengizinkan keduanya bebas.

Meskipun Wumaier bukan warga negara Australia, namun putranya secara resmi telah diakui sebagai salah satu warga negara setelah proses banding yang dilakukan Abdusalam.

Sementara itu, Februari lalu, pemerintah Cina mengatakan pernikahan pasangan itu tidak diakui berdasarkan hukum Cina dan Wumaier ingin tetap tinggal di Tiongkok.

Namun, beberapa jam setelah klaim tersebut dibuat oleh seorang pejabat Cina di program TV Australia, Abdusalam langsung memposting foto istri dan anaknya di Twitter yang memegang selembar kertas bertuliskan “Saya ingin pergi dan bersama suami saya.”.

Pasangan itu harus menunggu enam bulan lagi untuk akhirnya mendapatkan kabar yang telah mereka tunggu-tunggu.

“Kami mengetahui dua tiga bulan lalu bahwa mereka bisa pergi bertemu,” ujar pengacara Michael Bradley kepada BBC.

Pada hari ini, setelah perjalanan 48 jam melalui Shanghai, Hong Kong, Port Moresby, Brisbane, lalu Sydney, Abdusalam pun bisa bertemu dengan istri dan buah hatinya.

Dia pun mengucapkan terimakasih kepada departemen luar negeri Australia, pengcara dan media.

“Saya tidak pernah berpikir hari ini akan datang dan saya sangat ingin berterima kasih kepada semua orang yang telah bekerja keras untuk menyatukan kembali kami,” katanya.

“Impian saya adalah agar semua teman Uighur saya bisa bersatu kembali dengan keluarga mereka,” terangnya.