Kejam! Cina Terapkan Kerja Rodi 570 Ribu Minoritas Uighur di Perkebunan Kapas

Rabu, 16 Desember 2020 – 12:30 WIB

Etnis minoritas Uighur di Xinjiang memanen kapas di salah satu perkebunan. Foto: inty3000.com

Etnis minoritas Uighur di Xinjiang memanen kapas di salah satu perkebunan. Foto: inty3000.com

Washington, REQNews.com -- Cina memaksa 570 etnis minoritas di Xinjiang ke kamp kerja paksa sebagai pemetik kapas tangan kosong.

Dalam laporan yang diterbitkan Senin 14 Desember 2020, Center for Global Policy -- lembaga pemikir yang berbasis di Washington -- mengatakan data itu merujuk pada dokumen pemerintah yang bisa diakses secara online.

Dokumen menyebutkan tahun 2018 tiga wilayah mayoritas Uighur di Xinjiang mengirim 570 ribu orang untuk memetik kapas, sebagai bagian kerja paksa yang dijalankan negara.

Peneliti memperkirakan jumlah total yang terlibat dalam pemetikan kapas di Xinjiang melebihi angka itu. Tambahannya bisa beberapa ratus ribu, karena mereka tidak bekerja menggunakan mesin.

Xinjiang dalah sentra penghasil kapas untuk kebutuhan dunia. Sebanyak 20 persen kebutuhan kapas dunia berasal dari wilayah ini.

Seperlima dari benang yang digunakan untuk produk tekstil AS berasal dari Xinjiang.

Beijing mengatakan semua tahanan kamp kerja paksa dinyatakan lulus, tapi laporan lain menunjukan banyak mantan narapidana dipindahkan ke pabrik berketrampilan rendah. Pabrik itu tidak ubahnya kamp interniran.

Laporan itu menyebutkan ada skema transfer tenaga kerja. Itu diawasi polisi, dengan manajemen gaya militer dan pelatihan ideologis.

"Jelas bahwa tranfer tenaga kerja pemetikan kapas melibatkan risiko kerja paksa yang tinggi," kata Adrian Zenz, penulis laporan itu.

"Beberapa minoritas mungkin setuju diperlakukan seperti itu karena memperoleh keuntungan finansial," lanjut Zenz. "Namun tidak mungkin menunjukan kapan paksaan berakhir."

Laporan juga menyebutkan ada insentif ideologis untuk menegakan program itu. Peningkatan pendapatan pedesaan memungkinkan para pejabat mencapai target pengentasan kemiskinan yang diamanatkan negara.

Cina membantah keras laporan itu, dan menuduh AS menekan perusahaan di Xinjiang. Beijing juga mengatakan program pelatihan, program kerja, dan pendidikan membantu memberantas ekstremisme.

Awal Desember 2020 AS melarang impor kapas yang diproduksi Korps Produksi dan Konstruksi Xinjiang -- entitas paramiliter utama yang mencakup sepertiga tanaman di Xinjiang.

Beberapa merk internasional; Adidas dan Nike juga dituduh menggunakan kerja paksa Muslim Uighur dalam rantai pasokan tekstil.