Inilah Aris Terpidana Pertama yang Dihukum Kebiri Kimia

Selasa, 05 Januari 2021 – 03:33 WIB

Muhammad Aris Penerima Hukuman Kebiri Kimia Pertama (Foto:Istimewa)

Muhammad Aris Penerima Hukuman Kebiri Kimia Pertama (Foto:Istimewa)

MOJOKERTO, REQNews – Muhammad Aris pria berusia 21 tahun ini menjadi terpidana pertama yang divonis hukuman kebiri kimia. Karena hukuman tersebut, Aris yang ditahan di Lapas Mojokerto dipindah ke Lapas Porong Kabupaten Sidoarjo.

Terpidana pemerkosaan sembilan anak ini dipindahkan sejak 3 Desember 2020 lalu dengan alasan keamanan.

Warga Dusun Mangelo, Desa Mangelo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini dipindah ke Lapas Porong, Kabupaten Sidoarjo bersama 15 narapidan lain yang telah divonis hukuman di atas 10 tahun dan terpidana mati.

Pemindahan dilakukan karena Lapas Kelas 2b Mojokerto hanya memiliki pengamanan setingkat medium sekuriti.

“Tanggal 3 Desember kami pindah ke Lapas Porong, karena Lapas Mojokerto medium sekuriti. Kami pindah ke lapas dengan maksimum sekuriti,” kata Kepala KPLP Lapas Mojokerto Disri W Agustomo, Senin, 4 Januari 2021.

Pekerjaan Aris sehari-harinya adalah tukang las di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur (Jatim). Aksi jahat Aris itu dilakukan sejak tahun 2015.

Disri mengatakan, Muhammad Aris hanya menjalani hukuman selama sembilan bulan di Lapas Mojokerto. Selama di lapas itu, dia dinilai bersikap baik.

Aris juga tidak tertekan meski divonis hukuman kebiri karena perbuatannya mencabuli dan memperkosa anak di bawah umur.

Sebelumnya Aris ditahan di sel khusus karena nyawanya dikhawatirkan terancam jika ditahan bersama terpidana lainnya. Namun setelah tiga bulan di dalam lapas, Aris sudah ditahan di sel tahanan bersama terpidana lainnya.

Aris menjadi warga Indonesia yang pertama kali divonis hukuman kebiri kimia.

Berdasarkan putusan pengadilan, terpidana kasus pelecehan dan kekerasan anak itu juga harus mendekam di penjara selama 12 tahun. Selain itu, Aris dikenakan denda Rp100 juta subsider 6 bulan kurungan.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak.

Regulasi ini merupakan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2OO2 tentang Perlindungan Anak tersebut, ditandatangani dan ditetapkan Jokowi pada 7 Desember 2020.

Dalam Peraturan Pemerintah ini menyebut Pasal 1 ayat 2 dalam regulasi itu berupa tindakan kebiri kimia atau pemberian zat kimia melalui penyuntikan atau metode lain kepada pelaku yang pernah dipidana karena praktik kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, sehingga menimbulkan korban lebih dari 1 (satu) orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, untuk menekan hasrat seksual berlebih, yang disertai rehabilitasi.

Kemudian, pada Pasal 5 dalam PP tersebut menerangkan bahwa tindakan kebiri kimia dikenakan untuk jangka waktu maksimal dua tahun. Sementara Pasal 6 disebutkan bahwa tindakan kebiri kimia ditempuh melalui tiga tahapan yaitu penilaian klinis, kesimpulan, dan pelaksanaan.