Kedubes Cina di AS Mengatakan Peran Wanita Uighur Sebagai 'Mesin Pembuat Bayi' Harus Diakhiri

Sabtu, 09 Januari 2021 – 08:07 WIB

Foto: epochtimes.today

Foto: epochtimes.today

Taipei, REQNews.com -- Kedutaan Besar Cina di Washington, Kamis 7 Januari 2021, mengatakan penahanan wanita Uighur di kamp-kamp interniran untuk mengakhiri peran mereka sebagai 'mesin pembuat bayi'.

Mengutip sebuah studi di Pusat Penelitian Pengembangan Xinjiang, Kedubes Cina di AS menulis di Twitter-nya bahwa pemberantasan ekstremisme agama di Xinjiang telah membebaskan pikiran perempuan Uighur dan mengembangkan kesetaraan gender dan kesehatan reproduksi.

Cina juga membual bahwa kampanye indoktrinasi telah mengakhiri peran perempuan Uighur sebagai mesin pembuat bayi, dan menjadikan mereka lebih percaya diri dan mandiri.

Tweet itu menyertakan tautan artikel yang diterbitkan China Daily, corong pemerintah Cina, yang mengklaim penurunan dramatis angka kelahiran populasi Uighur di Xinjiang.

Artikel juga membantah asumsi penurunan drastis populasi Uighur di Xinjiang akibat sterilisasi paksa. Cina mengklaim angka kelahiran yang rendah disebabkan emansipasi pikiran wanita Uighur. Semua itu berkat proses pemberantasan ekstremisme agama.

Cendekiawan Jerman Adrian Zenz, pada Juni 2020, merilis laporan -- berdasarkan data statistik Cina dan wawancara lapangan di Xinjiang -- bahwa antara 2015-2018 populasi Uighur di Xinjiang turun 84 persen.

Zenz mengatakan penurunan luar biasa ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menuduh semua itu adalah bagian dari kampanye mengontrol dan menundukan Uighur.

Dalam laporan itu, Zenz mengutip akun wanita Uighur di Xinjiang yang ditawari sterilisasi gratis dengan ancaman dijebloskan ke kamp interniran jika menolak.

Di kamp interniran, wanita Uighur menerima obat yang tidak diketahui yang menyebabkan sterilisasi. Wanita lain dipaksa menerima alat kontrasepsi intrauterine jika mereka melebihi kuota lahir.

Etnis Han di Xinjiang diijinkan memiliki dua anak, wanita Uighur hanya boleh punya satu anak. Kelak, Han dipastikan akan mendominasi Xinjiang, dan menjadikan Uighur minoritas.