Misteri Suara Minta Tolong saat Kopaska Operasi Pencarian Korban SJ182

Kamis, 14 Januari 2021 – 07:00 WIB

Ilustrasi identifikasi puing pesawat Sriwijaya Air

Ilustrasi identifikasi puing pesawat Sriwijaya Air

JAKARTA, REQnews - Di tengah pencarian korban dan serpihan pesawat Sriwijaya SJ 182, Komando Pasukan Katak (Kopaska) Koarmada I mendengar suara minta tolong. Suara itu berasal tepat di lokasi operasi, yakni perairan Kepulauan Seribu. 

Setelah diidentifikasi, ternyata suara tersebut berasal dari nelayan yang mengalami musibah tenggelam. Tiga personel Kopaska mengevakuasi salah satu nelayan yang meninggal dunia di perairan tersebut, Rabu 14 Januari 2021.

"Ada tiga personel Kopaska yang mengevakuasi jenazah tersebut," kata Perwira Staf Operasi Satkopaska Koarmada I, Letkol Laut (P) Mukawat.

Sebelumnya, empat 'sea riders' Kopaska mengantarkan temuan kotak hitam Flight Data Recorder (FDR) ke JICT II Tanjung Priok pada Selasa 13 Januari 2021 petang. Kemudian di Rabu pagi, mereka kembali ke sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang untuk melanjutkan operasi SAR Sriwjaya Air SJ 182.

Saat melintas di antara Pulau Bidadari dan Pulau Untung Jawa, mereka mendengarkan teriakan minta tolong dari kapal nelayan.

"Saat itu cuaca buruk dengan gelombang besar dan angin kencang," kata Mukawat.

Di kapal itu, mereka menemukan dua nelayan, salah satunya telah meninggal dunia. Para personel pun melaporkan kepada pimpinan untuk mengevakuasi jenazah sebelum melanjutkan operasi penyelaman pesawat Sriwijaya Air.

"Jenazah lalu dibawa ke pesisir terdekat, yakni Tanjung Pasir, Tanggerang, menggunakan Sea Rider-19," ujar Mukawat.

Tiba di Tanjung Pasir, jenazah diserahkan kepada komandan pos AL untuk dilakukan penanganan selanjutnya.

Panglima Komando Armada I Laksamana Muda Abdul Rasyid pun mengapresiasi personel Kopaska yang mengevakuasi nelayan tenggelam tersebut.

"Di sela-sela kegiatan search and rescue (SAR) pesawat Sriwijaya Air, Kopaska masih turut menyelamatkan dua nelayan asal Tanjung Pasir, Tangerang," kata Rasyid di KRI Rigel-933. 

Satu korban selamat diketahui bernama Suryanto (30) dan korban meninggal bernama Rodia (50). "Gelombang di sekitar perairan Kepulauan Seribu memang agak tinggi, bisa 2-3 meter sehingga untuk kapal nelayan berukuran kecil berisiko mengalami masalah," kata Rasyid.