Apa Benar Habib Rizieq Ditendang Polisi? Refly Harun Ungkap Fakta Ini

Minggu, 17 Januari 2021 – 23:03 WIB

Potongan Video

Potongan Video

JAKARTA, REQnews- Jagat maya dihebohkan oleh sebuah video yang menampilkan tersangka kasus kerumunan, Habib Rizieq Shihab telah ditendang polisi. Eks pentolan FPI itu diduga ditendang saat hendak masuk ke mobil tahanan.

Dalam Video yang diunggah pada Kamis 14 Januari 2021 tersebut bernarasi "Asstagfirullah habib rizieq Shihab Di tendang Oknum Polisi. Ya allah ya rob Oknum Polisi ini tega menendang Sang Ulama Besar indonesia semoga Beliau di beri ketabahan ya kawan kawan".

Sotak narasi tersebut nemarik pernatian para netizen. Hingga saat ini video berdurasi dua menit itu telah ditonton 15 ribu kali dan disukai 79 pengguna Youtube.

Namun, benarkah Rizieq Shihab ditendang polisi ketika masuk mobil? 

Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun dalam video berjudul "VIRAL!! HABIB RIZIEQ DITENDANG PETUGAS?! INI KLARIFIKASINYA!!" di kanal youtube, mengaku mendapatkan klarifikasi atas kejadian tersebut. 

Refly menjelaskan video tersebut pertama kali beredar dalam percakapan Whatsapp dan menimbulkan banyak spekulasi.

Refly mengatakan Rizieq Shihab dalam cuplikan gambar itu tidak ditendang. Ia menjelaskan, lantaran pakaian yang I pakai polisi itu berat, polisi tersebut harus mengambil ancang-ancang untuk naik kedalam mobil.

"Maaf untuk semua sahabat, alhamdulillah saya sudah mendapat jawaban dari DPP bahwa itu bukan nendang HRS, tapi karena yang dipakai sama isilop (polisi) itu berat, jadi dia ambil ancang-ancang dan terkesan nendang HRS. Mohon maaf semuanya, saya sudah mendapat klarifikasi dari FPI jika IB HRS tidak ditendang," kata Refly sambil membacakan isi klarifikasi melalui telepon genggamnya

Dalam videonya Rafly juga menekankan bahwa Informasi HRS ditendang polisi ini termasuk kategori konten menyesatkan (misleading content).

“Ini termasuk kategori konten menyesatkan, misleading content terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan adanya pelintiran. Fakta yang benar ada kemudian dipelintir menjadi seolah ada dan terjadi. Kemudian, pelintiran informasi itu disebarkan secara luas dengan narasi yang mampu menarik perhatian publik," jelasnya dalam video.

Rafly menduga tujuan konten menyesatkan rersebut sengaja dibuat ini untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok untuk membuat opini sesat di publik.