Hamengku Bawono X Copot Jabatan Adiknya di Keraton Yogyakarta

Rabu, 20 Januari 2021 – 01:02 WIB

Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo (Foto:Istimewa)

Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo (Foto:Istimewa)

YOGYAKARTA, REQNews – Kabar mengejutkan datang dari Yogyakarta, GBPH Prabukusmo dan GBPH Yudaningrat dicopot jabatannya dari Keraton Yogyakarta. Surat pecopotannya tersebut ditandatangani langsung oleh Raja Keraton Yogyakarta Hamengku Bawono X.

Hamengku Bawono 10 merupakan kakak dari GBPH Prabukusmo dan GBPH Yudaningrat.

Dalam sebuah dokumen berjudul Dawuh Dalem nomor 01/DD/HB.10/Bakdomulud.`XII/JIMAKIR.1954.2020 disebutkan bahwa Gusti Bandara Pangeran Harya (GBPH) Drs Haji Yudaningrat MM dan Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH) Haji Prabukumo Spsi dicopot dari sebagai penggedhe atau pejabat di Keraton Yogyakarta.

Dalam surat tertanggal 2 Desember 2020 dicap dan ditandatangani oleh Hamengku Bawono 10 tersebut Raja Keraton Yogyakarta ini juga mengangkat dua putrinya menggantikan Gusti Yuda dan Gusti Prabu.

Surat tersebut terdiri dari dua bab. Bab I berisi tentang pencopotan GBPH Yudaningrat dan mengangkat GKR Mangkubumi yang sebelumnya menjabat sebagai wakil Penggedhe, Kawedanan Hageng Punakawan Parwabudaya diangkat menjadi Pengedhe Kawedanan Hageng Punakawan Parwabudaya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sementara pada Bab II berisikan pengangkatan GKR Bendara wakil Penggedhe Kawedanan Hageng Punakawan Nityabudaya menjadi Pengedhe Nityabudaya Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, yakni divisi keraton yang berwenang atas museum dan kearsipan keraton.

Selanjutnya Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH) Haji Prabukumo Spsi dicopot dari jabatanya sebagai penggedhe atau pejabat di Keraton Yogyakarta. Sebelumnya GBPH menjabat sebagai Pengedhe Nityabudaya Karaton Ngayogyakarto Hadiningrat. Dalam surat itu nama GBPH Prabukusumo tertulis Prabukumi.

Menanggapi pemecatan itu Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo mengaku sabar. “Kula sabar Mas. Lha menawi kulo saha Dimas Yudho dipun jabel kelenggahanipun, artinya kan dipecat to,” kata Gusti Prabu.

Dakui dirinya bersama Gusti Yudhaningrat selama enam tahun terakhir sudah tidak aktif lagi di Keraton. Yakni sejak adanya Sabdatama dan Sabdaraja dari Sultan HB X, yang dianggap melanggar paugeran Keraton Yogyakarta.

“Sehingga semua putra-putri HB IX mundur tidak mau lagi meladeni HB X,” jelas Gusti Prabu.