Komjen Listyo Sigit Ajak Anak Buah Ngaji Kitab Kuning, Apa Itu?

Kamis, 21 Januari 2021 – 12:32 WIB

Kitab kuning (Foto: Istimewa)

Kitab kuning (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Calon Kapolri, Komjen Listyo Sigit Prabowo akan mewajibkan anggota Polri untuk mengikuti kajian kitab kuning. Menurutnya, itu dilakukan untuk mencegah masuknya paham radikalisme dan terorisme.

Tak asal perintah, Listyo menuturkan bahwa kebijakan tersebut merupakan masukan dari para ulama. Ia meyakini, bahwa masukan-masukan dari para ulama ini benar adanya.

Karena itu, kajian kitab kuning ini akan dilanjutkan oleh Listyo setelah dilantik jadi Kapolri nanti oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). "Seperti di Banten, saya pernah sampaikan anggota wajib untuk belajar kitab kuning,” ujar Listyo, di Komisi III DPR RI Rabu 20 Januari 2021.

"Maka dari itu, kami akan lanjutkan. Tentu, kita kerja sama dengan tokoh agama, ulama untuk melakukan upaya pencegahan agar masyarakat tidak mudah terpapar ajaran-ajaran seperti itu,” katanya.

Tak hanya itu, Listyo mengatakan bahwa Polri juga akan berkoordinasi, kerja sama dengan stakeholder. Kebijakan ini untuk mencegah konsep pemahaman radikal melalui tekonologi informasi.

Misalnya, kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dalam mengawasi konten yang bernuansa radikalisme dan terorisme.

“Begitu ada konten nuansa memunculkan ajaran-ajaran atau terdeteksi adanya upaya untuk memunculkan ajaran-ajaran yang mengarah teroris, kemudian itu jangan sampai muncul, di-takedown. Harus ada langkah tegas, dan berani menghapus di dunia maya dengan membuat regulasi yang kuat,” kata dia.

Namun penegakan hukum secara tegas terhadap teroris tetap dilakukan sebagai upaya edukasi. Padahal, pencegahan sudah dijalani tapi masih saja terjadi aksi terorisme.

“Karena itu menyangkut masalah keselamatan rakyat, bangsa dan negara, maka tindakan tegas tetap dilakukan. Namun, tentunya harus dengan memperhatikan asas-asas yang ada di dalam hak asasi manusia (HAM),” ujarnya. 

Kitab kuning merupakan istilah yang disematkan pada kitab-kitab berbahasa Arab, yang biasa digunakan di banyak pesantren sebagai bahan pelajaran.

Dalam pendidikan agama islam, merujuk kepada kitab-kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama islam (diraasah al-islamiyyah) yang diajarkan pada Pondok-pondok Pesantren. Mulai dari fiqh, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa arab (`ilmu nahwu dan `ilmu sharf), hadits, tafsir, `ulumul qur’aan, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan (mu`amalah).

Kitab kuning dikenal juga dengan kitab gundul karena memang tidak memiliki harakat (fathah, kasrah, dhammah, sukun), tidak seperti kitab Al-Qur’an. Oleh sebab itu, untuk bisa membaca kitab kuning harus tau harfiah kalimat per kalimat agar bisa dipahami secara menyeluruh,