Disebut Makan Gaji Buta, Adik Sultan Yogya: Gaji Hanya Cukup untuk Pakan Kuda

Minggu, 24 Januari 2021 – 18:31 WIB

 GBPH Yudhaningrat (Foto:Istimewa)

GBPH Yudhaningrat (Foto:Istimewa)

YOGYAKARTA, REQNews – GBPH Yudhaningrat atau akrab disapa Gusti Yudho pun angkat bicara terkait pernyataan Sri Sultan HB X kedua adiknya dinilai makan gaji buta selama lima tahun.

Seperti diketahui, dua adik tiri Sultan Yogya Hamengku Buwono X yaitu GBPH Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat dipecat dari jabatannya sebagai penghageng di Keraton Yogyakarta. Pemecatan ini disebut Sultan HB X karena keduanya dinilai makan gaji buta selama lima tahun.

Gusti Yudho mengatakan tudingan makan gaji buta itu tak sesuai dengan kenyataannya.

Gusti Yudho menerangkan jika besaran gaji yang diterimanya tak seperti yang dibayangkan oleh masyarakat umum.

Gusti Yudho menilai dengan anggaran Dana Keistimewaan (Danais) sebesar Rp1,2 triliun, masyarakat membayangkan gaji yang diterimanya berkisar puluhan mungkin ratusan juta.

Gusti Yudho menuturkan gaji yang diterimanya ada dua. Pertama gaji dari Keraton Yogyakarta karena menjabat sebagai Manggala Yudha sebesar Rp8.000 setiap bulannya.

Sementara gaji yang kedua bersumber dari Danais sebesar Rp1.250.000. Gaji ini bisa diambil setiap empat bulan sekali. Honor ini disebut Gusti Yudho, karena Ia adalah pangeran dan bukan karena jabatan yang dipegangnya di Keraton Yogyakarta.

"Jadi jika Sultan HB X menyebut saya makan gaji buta itu tak berdasar karena dari jabatan struktural itu kami tidak mendapat gaji. Gaji itu karena berstatus pangeran. Saudara-saudara lain di Jakarta yang tak menjabat struktual tapi berstatus pangeran juga dapat," ucap Gusti Yudho, Sabtu 23 Januari 2020.

Selain dirinya, Gusti Yudho menyebut istri dan anaknya pun mendapatkan gaji dari Danais. Besarannya untuk istri Rp600 ribu dan anak Rp400 ribu.

"Jadi jangan dikira dari dana keistimewaan itu (saya) dapatnya puluhan juta per bulan. (Uang itu) hanya bisa saya pakai untuk pakan jaran (makan kuda)," tegas Gusti Yudho.

Gusti Yudho menerangkan saat ini Keraton Yogyakarta tak mempunyai kuda untuk acara-acara Keraton. Sehingga Gusti Yudho membeli kuda sendiri dan merawatnya untuk dipakai di kegiatan-kegiatan Keraton Yogyakarta.

"Keraton itu tidak punya kuda. Akhirnya dulu saya yang beli kuda. Membiayai pemeliharaannya pakai honor dana keistimewaan itu," ujar Gusti Yudho.