IFBC Banner

Kasus Jaksa Rengga, Bukti Pimpinan Kejaksaan Tidak Tegas dan Saling Pegang Kartu Truf

Rabu, 17 Februari 2021 – 10:33 WIB

Jaksa Rengga Puspa Negara (Foto: Istimewa)

Jaksa Rengga Puspa Negara (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Rengga Puspa Negara, merupakan seorang jaksa fungsional di Kejari Pesawaran, Lampung. Ia ditangkap kepolisian terkait kasus narkoba, pada 8 Februari 2021.

Hal tersebut pun menjadi pertanyaan publik, tentang bagaimana sistem pengawasan melekat yang ada di Kejaksaan Agung. Terkait hal itu, Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar pun memberikan tanggapan.

Menurutnya, dengan ditangkapnya jaksa pengguna narkoba, maka dapat disimpulkan bahwa pengawasan melekat selama ini tidak berjalan. "Karena ternyata masih ada jaksa sebagai pecandu narkotika," ujar Fickar kepada REQnews.com, Selasa 16 Februari 2021.

Namun, nyatanya Rengga sebelumnya sudah pernah ditangkap dengan kasus yang sama. Tetapi ia masih diberikan kepercayaan sebagai Jaksa. "Itulah solidaritas korps ditafsirkan secara negatif, seharusnya jaksa tersebut diberhentikan karena tindakannya sudah keterlaluan," kata Fickar.

Justru, masih kata Fickar, diberi kesempatan lagi dan melakukan lagi. "Jadi bukan soal pengawasan melekat tetapi ketegasan pimpinan kejaksaan terhadap jaksa yang melanggar," lanjutnya.

"Bisa jadi ketidaktegasan pimpinan kejaksaan itu terjadi karena saling menyandra," kata Fickar. "Di mana antara para jaksa saling memegang 'kartu truf' jaksa-jaksa isinnya."

Sehingga, kata Fickar, tidak berani menindak tegas. Karena, kekhawatiran dibuka kartunya. "Jadi bukan soal pengawasan," tegasnya.

Menurutnya, pengawasan di kejaksaan seharusnya berjalan sempurna. Karena fungsi jaksa sebagai penegak hukum, yang membawa konsekuensi.

Bahwa, kata pakar hukum pidana itu, justru prilaku jaksa mestinya menjadi teladan bagi masyarakat. "Karena itu jika kasus ini sampai ke pengadilan, maka harus dituntut dan dihukum maksimal. Status sebagai penegak hukum menjadi dada dan alasan pemberat," lanjutnya.

Untuk itu, Fickar pun memberikan masukan agar selanjutnya penegak hukum bisa menindak tegas para jaksa yang melanggar.

Menurutnya jika ada jaksa yang melanggar, bisa saja jaksa penuntut umum mutasikan ke daerah terpencil dan sepi, tujuannya adalah agar ia berkontemplasi. "Bagi jaksa-jaksa yang baik, diberi penghargaan yang sesuai," lanjutnya.

Sebelumnya, Rengga ditangkap pihak kepolisian terkait dengan kasus narkoba. Hal itu pun dibenarkan oleh Kepala Seksi (Kasi) Penerangan dan Hukum (Penkum) Kejati Lampung Andrie W. Setiawan.

"Benar, Rengga ditangkap pada Senin (8/2) lalu. Rengga telah diamankan terkait kasus tindak pidana narkotika,” ujar Andrie di Lampung, Senin 15 Februari 2021.

Saat ditangkap, dari tangan Rengga diamankan barang bukti berupa seperangkat alat isap sabu atau bong dan plastik sisa pakai sabu-sabu.

“Memang berdasarkan data kepegawaian terkini, Rengga telah mendapat penugasan baru sebagai pejabat fungsional di wilayah Kejari Pesawaran, Lampung, di wilayah Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung,” kata dia.

“Yang sebelumnya Rengga menjadi pejabat struktural pada Kejari Kaimana di Papua Barat,” ujarnya.

Hingga kini, kata Andrie, pihaknya belum mendapatkan SK Definitif dan Surat Perintah pelaksanaan tugas dari Kejati Papua Barat. "Sehingga yang bersangkutan masih berstatus pegawai pada Kejari di wilayah Papua Barat,” katanya.

Diketahui penangkapan Rengga bukan kali pertama. Sewaktu masih berdinas di Kejari Lampung Timur, Rengga diamankan oleh Satresnarkoba Polresta Bandarlampung pada 2018 lalu.