Kasus 4 IRT Lempari Pabrik Rokok, Polri: 9 Kali Mediasi Gagal!

Selasa, 23 Februari 2021 – 22:32 WIB

4 IRT kasus pelemparan pabrik rokok ditahan bersama dengan dua balita (Foto: Istimewa)

4 IRT kasus pelemparan pabrik rokok ditahan bersama dengan dua balita (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Polri mengaku telah melakukan mediasi sebanyak 9 kali terkait dengan kasus pelemparan gudang rokok yang dilakukan 4 ibu rumah tangga (IRT) di Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Namun, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan bahwa upaya tersebut gagal. "Telah dilakukan mediasi sebanyak 9 kali oleh Kapolres Lombok Tengah namun tidak berhasil," ujar Argo di Jakarta, Selasa 23 Februari 2021.

Menurut Argo, berkas perkara kasus tersebut sudah lengkap atau P21 per 3 Februari 2021. Kemudian, pada 16 Februari 2021 dilakukan tahap 2 penyerahan tersangka dan barang bukti diserahkan ke kejaksaan.

"Selama proses penyidikan para tersangka tidak ditahan," katanya.

Pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan Kajari dan Ketua PN Lombok Tengah. Yakni terkait sidang secara virtual dan kelanjutan vonis sidang ke depan.

Sebelumnya 4 ibu rumah tangga (IRT) di Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan pelemparan gudang rokok dan menuai polemik.

Banyak pihak yang menyayangkan penahanan yang dilakukan terhadap 4 IRT itu. Bahkan, dua balita ikut ditahan lantaran masih membutuhkan ASI oleh ibunya.

Tindakan yang dilakukan oleh 4 IRT itu, sebagai bentuk protes karena polusi yang ditimbulkan dan justru pabrik memilih mempekerjakan orang luar dibanding warga setempat. 

Masing-masing IRT itu adalah Nurul Hidayah (38 tahun), Martini (22 tahun), Fatimah (38 tahun), dan Hultiah (40 tahun).

Kasus tersebut terkait dengan warga Dusun Eat Nyiur Desa Wajageseng melakukan penolakan beroperasinya UD. Mawar Putra. Mereka menganggap aroma bahan kimia yang digunakan sangat menyengat.

Sehingga berpotensi menimbulkan sesak nafas, batuk dan penyakit lainnya yang membahayakan kesehatan warga.

Proses mediasi pun dilakukan, antara pihak warga dan pabrik. Namun gagal menemui jalan tengah, adapun total mediasi yang telah dilakukan oleh pihak Kepolisian sebanyak 9 kali.

Usai gagal mediasi, terjadi aksi pelemparan batu terhadal atap gudang UD Mawar Putra. Sehingga membuat para pekerja takut dan menghentikan aktivitas pekerjaan. Kejadian ini kemudian dilaporkan ke Polres Lombok Tengah.

Pihak Suardi membuat laporan polisi ke Polres Lombok Tengah. Berkas perkara pun saat ini sudah lengkap, namun terhadap terlapor tidak dilakukan penangkapan dan penahanan.

Keempat IRT itu diancam pasal 170 KUHP ayat (1) dengan ancaman pidana penjara 5-7 tahun atas tuduhan pengerusakan.