Petaka Covid-19, Dompet Negara Jebol Rp 45 Triliun Per Januari 2021

Rabu, 24 Februari 2021 – 02:02 WIB

Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani (Foto: Istimewa)

Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 sudah mengalami defisit sekitar Rp 45 triliun sampai dengan Januari 2021. Itu terjadi karena pendapatan lebih rendah dari pada pengeluaran negara. 

Per Januari 2021, pendapatan negara yang terkumpul baru Rp 100 triliun. Itu berbanding dengan belanja negara yang sudah mencapai Rp145 triliun. 

Pendapatan tersebut bersumber dari penerimaan pajak Rp 68,5 triliun, kepabeanan dan cukai Rp 12,5 triliun, PNBP Rp 19,1 triliun, sedangkan hibah nol.

"Defisit APBN (naik) 0,26 persen, dibandingkan (pada Januari) 2020 yang baru Rp34,8 triliun. Tidak terlalu banyak beda. Tapi ada kenaikan dibanding Januari 2020 sebelum ada Covid," ujar Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam konferensi pers, Selasa 23 Februari 2021.

Defisit itu terjadi karena pendapatan negara pada Januari 2021 mengalami kontraksi 4,8 persen, dibandingkan dengan tahun 2020 yang bisa mencapai Rp105 triliun.

Hal itu salah satunya dipicu karena pendapatan pajak yang baru mencapai Rp 68 triliun atau terkontraksi 15,3 persen. Dibandingkan tahun lalu yang masih bisa mencapai Rp 80,8 triliun. 

Selain itu, pendapatan ditekan oleh belanja negara, terutama untuk modal, barang, dan bansos. Itu melonjak sangat tinggi pada Januari 2021, karena dampak pandemi Covid-19.

"TKDD menurun namun breakdown-nya dana desa melonjak tinggi Rp 800 miliar dibanding Rp 300 miliar tahun lalu ini sekali lagi untuk mendukung rakyat kita melalui BLT desa," kata dia.

Menteri Keuangan itu mengatakan jika pada Januari 2021, belanja barang naik 7,2 persen. Kemudian untuk belanja modal, naik sebesar 539 persen.

Lalu, untuk belanja kebutuhan bantuan sosial, Sri Mulyani mengungkap per Januari 2021, sudah teralisasi sebesar Rp 20 triliun. Jumlah tersebut lebih tinggi, dibandingkan realisasi 2020 yang baru Rp 13,2 triliun.