Junta Militer Myanmar Ancam Dokter dan Petugas Medis Penggerak CDM

Rabu, 24 Februari 2021 – 08:11 WIB

Foto: Irrawaddy.com

Foto: Irrawaddy.com

Yangon, REQNew.com -- Junta militer Myanmar mengancam akan memecat perawat dan dokter pemerintah yang tidak kembali bekerja.

"Doter dan tenaga medis tidak disiplin akan dihukum sesuai UU Kepegawaian," kata Jendral Min Aung Hlaing, pemimpin militer Myanmar.

Berdasarkan UU, tindakan maksimal terhadap pegawai negeri adalah pemecatan. Tidak ada hukuman penjara bisa diterapkan dalam kasus ini.

Dr Win Ko Ko Thein, wakil direktur Kementerian Kesehatan dan salah satu penggagas gerakan pembangkangan sipil (CDM), merespon ancaman dengan mengatakan; "Peringatan itu contoh terbaik betapa putus asa rezim militer saat ini."

CDM digagas para dokter, didukung dan dijalankan tenaga medis, staf rumah sakit, dan para dokter di kota-kota kecil. Gerakan ini membesar, dengan semua kelompok profesi terlibat.

Sejak kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan sipil 1 Februari 2021, 357 dari 1.262 rumah sakit di Myanmar tutup. Sebanyak 778 masih beroperasi, tapi 27 di antaranya tidak dapat memberi pelayanan.

Sebagian besar dokter dan tenaga medis yang membangkang berasal dari rumah sakit pemerintah. Mereka yang tidak turun ke jalan berkomitmen hanya akan merawat pasien yang benar-benar butuh pertolongan.

Dua pekan lalu, militer mengimbau dokter dan tenaga medis kembali bekerja. Imbauan tak digubris. Bahkan, para dokter dan tenaga medis meningkatkan seruan agar kelompok profesi lainnya terlibat dalam CDM.

Hari-hari berikutnya dunia menyaksikan jalan-jalan di pusat kota-kota besar di Myanmar dipenuhi kelompok-kelompok profesi yang berunjuk rasa.

Pengawai negeri meninggalkan meja, membiarkan kantor terbuka tanpa pegawai. Karyawan bank pemerintah dan swasta menutup kantor dan berdemo.


Klinik Menjamur

Tidak ada tanda-tanda petugas medis dan dokter kembali bekerja. Dr Win mengatakan junta harus mencari solusi lain.

Namun, para dokter tidak pernah meninggalkan tugas kemanusiaan yang melekat. Mereka meninggalkan tugas di rumah sakit pemerintah, tapi melayani masyarakat dengan membuka klinik gratis.

Klinik pengobatan gratis tiba-tiba menjamur di hampir semua kota di Myanmar, dengan dokter sukarelawan ada di tempat setiap saat.

Jadi, tidak ada tugas kemanusiaan terabaikan selama pembangkangan sipil berlangsung. Sebagai penggagas CDM, dokter dan tenaga medis tampaknya akan terus berjuang sampai militer jatuh.