800 Umat Kristen Orthodox Ethiopia Dibantai karena Mempertahankan Tabut Perjanjian Nabi Musa

Rabu, 24 Februari 2021 – 11:06 WIB

Foto: New York Post

Foto: New York Post

Tigray, REQNews.com -- November 2021 lalu, Axum -- kota suci Kristen Orthodox Ethiophia di Tigray -- dikejutkan pembantaian 800 orang di Gereja St Mary of Zion. Misteri Tabut Perjanjian Nabi Musa kembali dibicarakan.

Axum adalah kota yang terputus dari dunia luar setelah tiga bulan konflik berdarah di Tigray. Ketika pembantaian terjadi, tidak seorang pun di luar Ethiopia yang tahu.

Kabar tentang pembantaian itu muncul Januari 2021, setelah sambungan telepon dipulihkan. Wartawan dari berbagai negara yang datang ke Axum tidak mendapatkan apa pun kecuali kesaksian orang-orang yang selamat dari pembantaian.

Seorang diaken, atau pelayan gereja, mengatakan pembantaian terjadi ketika misa berlangsung. Penyerang, diduga Tentara Eritrea dan Ethiphia, menembak membabi buta.

Mereka yang berusaha lari ditembak di jalan-jalan. Di dalam gereja, tubuh-tubuh dengan lubang peluru bergelimpangan. Lantai gereja memerah.

Tidak ada yang berani keluar rumah untuk menyelamatkan mereka yang sekarat, dan mengangkat mereka yang tewas. Malam hari, menurut diaken itu, jalan-jalan dipenuhi suara heyna yang berpesta, memakan mayat-mayat.

Keesokan hari, ketika orang-orang memberanikan diri keluar, tentara Eritrea melarang penduduk menguburkan mayat.

Hari-hari setelah itu, bau busuk tindakan tak berperikemanusiaan keluar dari Axum tapi bukan sebagai berita. Pembantaian dikonsumsi warga Ethiopia sebagai rumor.

Ada dua versi mengapa pembantaian terjadi. Pertama, pembantian adalah ekses konflik bersenjata. Tentara Eritrea, Ethiopia, dan milisi Amhara, mengejar pejuang Front Pembebasan Tigray (TPLF), yang diduga bersembunyi di dalam gereja.

Versi kedua -- seperti disampaikan Martin Plaut, Senior Research Fellow at the Institute of Commonwealth Studies -- pembantaian terjadi akibat masyarakat sekitar Gereja Mary of Zion melihat kedatangan tentara Ethiopia, Eritrea, dan milisi Amhara untuk merampok Tabut Perjanjian. Mereka tergerak untuk mempertahankan tabut.

ChurchTimes melaporkan penduduk percaya penyerang berniat membawa tabut itu ke Addis Ababa, ibu kota Ethiopia, bersama pendeta tunggal yang mengawalnya.

Apakah tentara penyerang hanya menargetkan Gereja St Mary of Zion, atau Gereja Tablet?

Ternyata tidak. Tentara Eritrea menghujani Masjid Al Nejashi, yang didirikan 15 pengikut Rasulullah Muhammad yang di masa awal penyebaran Islam dan diplomasi, dengan tembakan meriam.

Setelah dihujahi tembakan, masjid dijarah tentara Eritrea dan Ethiopia. Penduduk sekitar, Muslim dan Kristen, berusaha mencegah tapi harus meregang nyawa oleh berondongan senjata.


Tabut Perjanjian

Beberapa hari terakhir, pers Barat sibuk menyoroti pembantaian di Gereja St Mary of Zion dengan satu pertanyaan, apakah Tabut Perjanjian benar-benar ada di gereja itu?

Tabut Perjanjian, sering pula disebut bahtera, adalah peti kayu berlapis emas yang diyakini menyimpan 10 Perintah Allah untuk Nabi Musa.

Semula, tabut disimpan di Kuil Sulaiman di Yeruselam selama berabad-abad. Perjanjian Lama menyebutkan tabut lenyap setelah Yerusalem dijarah Babilon pada 586 atau 587 SM.

Sejak saat itu tidak ada yang tahu di mana tabut itu. Rumor yang menjadi sejarah menyebutkan tabut dicuri Ksatria Templar dan disembunyikan di Katedral Prancis. Ada pula yang mengatakan tabut dikubur bersama pemakaman Alexander Agung di Yunani.

Di Ethiopia, umat Kristen Orthodox yakin tabut disimpan di Gereja St Mary of Zion di kota suci Axum. Masyarakat sekitar sangat meyakini cerita ini, kendati tidak satu pun dari mereka pernah melihat tabut itu.

Di masa normal, orang-orang -- dari sekujur sudut Ethiopia -- akan berkumpul di Gereja St Mary of Zion pada akhir November, yang diyakini sebagai hari kedatangan Tabut Perjanjian ke Axum, setelah sekian lama hilang dari Yerusalem.

Menurut legenda, tabut dicuri staf Menelik -- putra Ratu Sheba dan Raja Sulaiman -- dan dibawa ke Ethiopia pada abad ke-10 SM. Menelik menganggap pencurian itu diijinkan Allah, karena tidak ada anak buahnya terbunuh.


Meragukan

Tidak ada yang bisa memastikan tabut itu asli atau tidak, sebab tidak satu pun yang pernah melihatnya. Legenda menyebutkan tabut sangat berbahaya, sehingga selalu tertutup saat dipindahkan.

Di Axum, hanya biksu perawan yang ditahbiskan menjada dan diijinkan melihatnya. Tidak ada foto isi tabut, hanya ilustrasi berdasaran uraian Keluaran pasal 25 ayat 10-12 Perjanjian Lama.

Tabut, menurut Perjanjian Lama, terbuat dari kayuakasia yang dilapisiemas dan dua tiang.

Kepada majalah Smithsonian tahun 2007, Patriak Abuna Paulos mengatakan kepala Gereja Ortodoks Ethiopia dilarang melihatnya.

"Penjaga bahtera adalah satu-satunya orang di dunia yang memiliki kehormatan tiada tara itu," kata Paulos.

Penjaga itu, lanjut Paulos, berdoa terus-menerus di dekat bahtera. Doa siang dan malam, membakar dupa di depan bahtera, dan memberi penghormatan kepada Tuhan.

Muncul pertanyaan, bagaimana nasib tabut dan penjaganya setelah serangan itu? Apakah benar pemerintah Ethiopia berupaya membawa tabut ke ibu kota?

Almarhum Edward Ullendorff, sejarawan Inggris yang meneliti Ethiopia, pernah mengatakan kepada Los Angeles Times bahwa dia melihat tabut itu selama Perang Dunia II. Tabut itu adalah kotak kayu kosong.

Tudor Parfitt, rekan Ullendorff, mengatakan kepada Live Science tahun 2018; "Tabut itu tidak kuno, jadi bukan asli."

Orang Ethiopia punya cara menepis laporan semacam itu dengan mengatakan; "Orang-orang diperlihatkan tabut palsu untuk melindungi yang asli."

Wolbert Smidt, enohistorian yang mengkhususkan diri pada wilayah Tigray, mengatakan; "Menyerang Axum adalah upaya menghancurkan identitas Tigrayans Orthodox dan semua orang Kristen Orthodox Ethiopia."

Axum bukan sekedar kota, tapi gereja dalam tradisi lokal.