Tenaga Medis dan Pekerja Kesehatan India Ogah Disuntik Vaksin Dalam Negeri

Kamis, 25 Februari 2021 – 20:49 WIB

Foto: thewire.in

Foto: thewire.in

Delhi, REQNews.com -- Tenaga medis India dan petugas kesehatan garis depan dalam penanggulangan Covid-19 menolak menerima Covaxin, vaksin buatan dalam negeri, karena tingkat kemanjuran yang meragukan.

"Ini semua akibat diskusi awal tentang bagaimana Covaxin dibuat," kata Dr Subhash Salunkhe, penaseta pemerintah negara bagian Maharashtra tentang strategi vaksin.

Covaxin, menurut Dr Salunkhe, adalah vaksin eksperimental. Vaksin itu belum menyelesaikan uji klinis Fase 3, dan tingkat kemanjurannya belum diketahui.

"Inilah yang menimbulkan keraguan banyak orang," kata Dr Salunkhe. "Soal ketersediaan, itu tidak masalah."

Covaxin dibuat Bharat Biotech, perusahaan pemerintah. India memesan 10 juta dosis Covaxin, dan 21 juta dosis AstraZeneca/Oxford.

Sejak 16 Januari 2021, India memvaksinasi 10,5 juta tenaga medis dan pekerja kesehatan garis depan. Namun, hanya 1,2 juta, atau 11 persen, tenaga medis dan pekerja kesehatan garis depan yang menerima Covaxin.

Sebanyak 9,4 juta lainnya menggunakan AstraZeneca/Oxford yang dibuat Serum Institute, sebuah perusahaan India.

Sejauh ini, India baru menerima 5,5 juta Covaxin dan AstraZeneca. Jumlah yang jauh dari cukup untuk memvaksinasi 300 juta orang.

Rajesh Bhushan, menteri kesehatan India, mengaitkan penyerapan Covaxin yang rendah dengan kapasitas produksi Bharat Biotech yang terbatas dibanding Serum Institute.

Sejauh ini, Serum Institute memproduksi vaksin AstraZeneca untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

"Kami justru menemukan jumlah penyerapan Covaxin dan AstraZeneca/Oxford relatif sebanding," katanya kepada wartawan.


Oposisi Menolak Covaxin

Chhattisgarh -- negara bagian yang diperintah oposisi dan berpenduduk 32 juta orang -- menyatakan tidak akan menerima Covaxin sampai kemanjurannya terbukti dalam uji klinis.

Ahli epidemiologi dan kesehatan masyarakat juga mengkritik persetujuan Covaxin yang terburu-buru. Tidak ada data klinis yang menunjukan vaksin itu ampuh.

Bharat Biotech mengatakan data uji klinis yang melibatkan 26 ribu sukarelawan akan keluar. Data sementara, menurut perusahaan itu, menunjukan Covaxin aman dan efektif.

Namun Bharat Biotech tidak mengomentari pertanyaan soal serapan Covaxin yang rendah.

India berkepentingan dengan percepatan vaksinasi, karena telah melonggarkan lockdown, masyarakat juga bosan menggunakan masker dan menjaga jarak sosial.

Kebosanan itu membuat angka penularan bertambah lagi. Terakhir, India melaporkan 16.738 infeksi virus korona baru dalam 24 jam. Ini adalah lonjakan harian tertinggi dalam sebulan terakhir.

Lebih setengah kasus infeksi itu terdapat di Maharashtra, negara bagian terkaya dengan Mumbai sebagai ibu kota industri keuangan.

Kematian di selurun India bertambah 138, tertinggi dalam sebulan terakhir. Total kematian di seluruh India kini mencapai 156.705.