Walhi Sebut Politisasi Banjir di Jakarta Berlebihan Padahal Daerah Lain Lebih Parah

Jumat, 26 Februari 2021 – 00:03 WIB

Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan saat meninjau banjir

Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan saat meninjau banjir

JAKARTA, REQnews - Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Dwi Saung menyatakan, hujan deras yang mengguyur beberapa daerah di Indonesia hingga menyebabkan banjir tidak hanya terjadi di Jakarta, namun juga daerah lain.

Dia pun menyoroti banjir di sejumlah wilayah, yang justru lebih parah dari yang terjadi di Ibu Kota. “Tangerang itu sudah berhari-hari, Bekasi juga dekat rumahnya Menteri PUPR, itu sama juga, banjir juga di Bekasi juga berhari-hari, sampai sekarang belum surut,” ujar Dwi Sawung, dikutip dari kanal Youtube Najwa Shihab, Kamis, 25 Februari 2021.

Tetapi, sambungnya, banjir di sejumlah wilayah tersebut justru terabaikan, karena orang-orang lebih fokus pada banjir Jakarta. “Itu jadi terabaikan, kita jadi fokus pada politiknya di Jakarta. Itu terjadi di sekarang di sosmed, di mana-mana, yang dibahas Jakarta. Padahal banjir yang lebih besar di Indonesia itu banyak di mana-mana, dan sampai sekarang juga masih terjadi,” kata Dwi Sawung.

Sebabnya, menurut Dwi, politisasi di DKI Jakarta cukup tinggi dan hal itu telah lama terjadi. Sehingga, menjadi salah satu penyebab sengkarut banjir Ibu Kota. “Ya memang ada unsur politiknya, dan cukup tinggi juga ya di Jakarta, dan ini sudah lama terjadi kaya gini, dan Jakarta pasti lebih kuat ya,” ujarnya.

Ditambahkannya, bahwa sebenarnya masyarakat yang mengkritik pun menjadi korban, karena akan mendapat serangan dari kubu yang berlawanan. “Dan sebenarnya kita juga jadi korbannya ya, ketika kita kritik, pasti diserang pendukung salah satu kubu gitu ya. Kalau kita dukung satu tindakan, sama juga. kita dukung yang pusat misalnya, pendukung yang satunya menyerang kita juga,” ucap Dwi.

Sebetulnya, dia menuturkan bahwa dukung-mendukung dalam dunia politik merupakan hal yang wajar. "Cuma sekarang jadi tidak sehat, karena banjirnya itu sebenarnya bukan Jakarta aja. Bahkan yang lebih parah itu bukan Jakarta,” tambah Dwi. Oleh karena itu, dia menyayangkan politisasi Jakarta yang terlalu kuat, sehingga semua terfokus ke Jakarta.

“Nah itu yang kita sayangkan ya, politisasinya terlalu kuat, jadi semuanya jadi fokus ke Jakarta. Padahal di Jakarta kan cuma sebentar ya banjirnya, gak lama,” ucap Dwi Sawung. Sementara terkait adanya korban jiwa akibat banjir Jakarta, dia juga menyesalkan hal itu terjadi.

“Dan kalau korban kita juga sesalkan, kenapa mesti ada korban? Itu sayang banget. Kalau bisa sebenarnya Jakarta itu bisa gak ada korban, karena Jakarta lebih mudah informasi yang didapat,” tandasnya.