Malu Menyaksikan Militer Membantai Pengunjuk Rasa, Lebih 10 Diplomat Myanmar Membangkang

Jumat, 05 Maret 2021 – 14:40 WIB

Seorang korban tewas di tempat dalam aksi unjuk rasa dilarikan ke klinik. Pembantaian di jalan-jalan membuat diplomat Myanmar malu dan terganggu. Foto: Myanmar Now

Seorang korban tewas di tempat dalam aksi unjuk rasa dilarikan ke klinik. Pembantaian di jalan-jalan membuat diplomat Myanmar malu dan terganggu. Foto: Myanmar Now

Yangon, REQNews.com -- Terganggu dan malu oleh pembantaian pengunjuk rasa, lebih 10 diplomat Myanmar di AS dan negara-negara Eropa menyatakan tidak akan bekerja untuk rejim militer.

U Aung Kyaw Naing, konsul Myanmar di Los Angeles, AS, mengumumkan akan bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil (CDM) mulai Jumat. Dia mengabdi untuk Kementerian Luar Negeri Myanmar selama 30 tahun.

Daw Chaw Kalayar, sekretaris ketiga di Kedubes Myanmar di Berlin Jerman, menyatakan tidak bersedia bekerja di baawh rejim yang menggulingkan pemerintahan sipil dan menahan politisi di luar hukum.

"Saya tidak akan bekerja untuk kelompok teroris, yang membunuh warga sipil secara brutal," katanya.

Chaw Kalayar hanya akan menjalankan tugas sebagai diplomat jika Komite yang Mewakili Pyidaungsu Hluttaw (CRPH) memberinya tanggung jawab. Pyidaungsu Hluttaw adalah parlemen persatuan Myanmar, yang dibentuk angota parlemen terpilih yang dibubarkan kudeta militer.

"Saya menolak mengakui rezim militer," kata Chaw Kalayar. "Saya juga mendesak komunitas internasional mengakui saya sebagai perwakilan rakyat Myanmar yang sah."

Diplomat Myanmar lainnya mengatakan sedih, malu, dan terganggu, oleh aksi brutal militer yang menembaki pengunjuk rasa. Sejak militer mengambil alih kekuasaan, 49 tewas di jalan-jalan dengan tubuh penuh lubang peluru.

Di desa-desa, militer meneror penduduk yang mendukung aksi unjuk rasa. Militer mengerahkan preman untuk menakuti penduduk.

Diplomat mengatakan mereka menggunakan hak untuk berekspresi damai, dan berdiri bersama rakyat myanmar. Namun mereka tidak akan mengundurkan diri dari posisi mereka.

Warga Myanmar di luar negeri, terutama yang menjadi tenaga kerja atau belajar, juga turun ke jalan memprotes kudeta militer. Tidak ada yang bisa dilakukan Kedubes Myanmar di banyak negara menghadapi aksi unjuk rasa.

Militer menarik 100 diplomatnya dari 19 negara; di antaranya AS, Inggris, Norwegia, Cina, dan Jepang, setelah U Kyaw Moe Tun -- utusan Myanmar di PBB -- mmemutuskan hubungan dengan rezim di Yangon.