Ngaku-ngaku Petugas KPK, 3 Orang Ini Berakhir di Hotel Prodeo

Minggu, 07 Maret 2021 – 03:02 WIB

KPK

KPK

JAKARTA, REQnews - Polisi mengamankan tiga orang yang mengaku-ngaku sebagai petugas dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kabupaten Nias, Sumatra Utara.

Ketiga orang yang diketahui bernama Arnes Arisoca (61(, Saripul Ikhwan Tanjung (29) dan Aliran Duha (60) itu kerap menjalankan aksinya, dengan memeras kepala sekolah SD di beberapa desa dan kecamatan di Nias.

Menurut keterangan Kapolres Nias Selatan AKBP Arke F Ambat, ketiga petugas KPK gadungan itu kini sudah ditetapkan sebagai tersangka.

"Ketiga tersangka mengaku sebagai anggota KPK dan LSM Pemantau Penggunaan Keuangan Negara (P2KN) yang bertugas untuk audit investigasi dan monitoring penggunaan keuangan negara," kata Arke, Sabtu 6 Maret 2021.

Para pelaku disebut telah melakukan berbagai aksi pemerasan dan penipuan sejak November 2020 lalu. Korban diperas, mulai dari Rp 600 ribu hingga Rp 6 juta.

"Korban berjumlah tujuh orang yang seluruhnya merupakan Kepala Sekolah Dasar (SD). Total dari pemerasan sampai saat ini sudah sekitar Rp 9,8 juta," ujar Arke.

Dari ketiga tersangka polisi turut mengamankan uang Rp 4,8 juta, satu unit mobil, tiga unit handphone, satu stempel, sembilan lembar kartu pengenal dan 55 lembar sistem informasi desa (SID) dari berbagai desa se-Kabupaten Nias Selatan.

Kemudian, 49 lembar kertas kosong berlogo DPP LSM P2KN, 33 lembar surat berlogo DPP LSM P2KN yang isinya tulisan tangan mengenai kunjungan kerja Tim Investigator Nasional di 33 desa yang ada di wilayah Kabupaten Nias Selatan.

"Selanjutnya, 32 lembar surat berlogo DPP LSM P2KN yang isinya tulisan tangan mengenai kunjungan kerja Tim Investigator Nasional di 32 sekolah yang ada di Kabupaten Nias Selatan, dan satu potong rompi warna hitam," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa motif ketiga tersangka untuk mencari uang agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga atau kebutuhan sehari-hari. Akibat perbuatannya para tersangka dijerat dengan Pasal 368 ayat (1) Subs Pasal 369 ayat (1) Subs Pasal 378 Jo. Pasal 64 dari KUHPidana, dengan ancaman hukuman 9 tahun kurungan.