IFBC Banner

Makam Hayatul Ulum Dibongkar, Tim Forensik Sampai Pakai Ilmu Ini

Minggu, 07 Maret 2021 – 16:33 WIB

Autopsi (Foto: Istimewa)

Autopsi (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Kuburan Hayatul Ulum (44), korban pembunuhan asal Pande Besi, Kelurahan Karang Pule terpaksa dibongkar Satreskrim Polresta Mataram dan tim forensik pada Sabtu, 6 Maret 2021.

Ini dilakukan lantaran pelaku pembunuhan terus menyangkal perbuatannya. Adapun proses autopsi dilaksanakan di Pekuburan umum Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram dan dipimpin dokter forensik RSUD Kota Mataram, dr Arfi Samsun.

Pembongkaran dilakukan sekitar pukul 09.00 Wita, dan jenazahnya langsung diautopsi petugas.

Korban diketahui meninggal dunia pada 29 November 2020 silam. Saat ini polisi masih melakukan autopsi untuk memperkuat alat bukti kasus pembunuhan.

"Autopsi salah satu upaya untuk menambah alat bukti yang meyakinkan penyidik terkait sangkaan kepada tersangka atau pelaku,’’ kata Kasat Reskrim Polresta Mataram, Kompol Kadek Adi Budi Astawa,SIK.

Dengan adanya autopsi, Ahli Forensik nantinya dapat membuat jelas dan terang penyebab kematian korban. 

"Kita sudah ada keterangan ahli, surat dan petunjuk sebagai alat buktinya. Bisa kita bilang keterangan tersangka tidak dihitung. Kita sudah dapat keterangan saksi maupun petunjuk yang kuat. Surat keterangan yang kuat juga ada. Makanya ini ada dokter forensik sebagai ahli menjelaskan penyebab kematiannya,’’ ucap Kadek.

 “Lukanya ada di mana dan kualitas luka yang menyebabkan kematiannya itu seperti apa. Karena setiap celah yang tersangka menyangkal harus kita buktikan" lanjutnya.

Namun, meskipun dua orang menyangkal sebagai pelaku pembunuhan, Kadek memastikan tidak terlalu fokus pada pengakuan tersangka. Pihaknya akan fokus pada alat bukti dan keterangan saksi yang menguatkan korban meninggal karena dibunuh. 

Menurut Dokter forensik Arfi Samsun, yang memimpin autopsi, jenazah Hayatul Ulum langsung dikebumikan lagi ditempat semula. Hal itu dikarenakan tidak ada organ dan bagian tubuh jenazah dibawa untuk diperiksa lebih lanjut.

"Tinggal saya buatkan hasil autopsinya. Tapi etikanya, hasil (autopsi) harus saya sampaikan ke penyidik. Tapi hasilnya sesuai dengan apa yang kami prediksi di awal dan tugas saya sudah selesai,’’ ucapnya.

Sebelumnya, polisi menangkap dan mengamankan dua orang yakni IL (35) dan BR (34) diduga sebagai pelaku. Keduanya merupakan warga Lingkungan Mapak Indah, Kelurahan Jempong Baru Kecamatan Sekarbela dan warga Lingkungan Pande Besi, Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela Kota Mataram.

IL berperan sebagai eksekutor, sedangkan BR mengantar atau membonceng IL saat menusuk korban dengan sebilah pisau.

Kasus ini dapat terungkap menggunakan investigasi ilmiah saintifik (Scientific Crime Investigation) atau SCI. Yakni dengan melakukan tes DNA terhadap sebilah pisau yang digunakan pelaku. 

Pisau tersebut ditemukan polisi di rumah IL dan dilakukan uji forensik dan Tes DNA di Puslabfor Bareskrim Mabes Polri untuk memastikan bercak darah dibaju korban dan bercak pada pisau.

Didapati, darah dikeduanya identik dan cocok. "Puslabfor menjelaskan, posisi darah ditemukan di bawah gagang pisau. Itu darah manusia. Darah bisa menempel begitu kan berarti ditusuk dalam sehingga bisa masuk darahnya,’’ ucap Kadek. 

Meskipun sudah mengantongi sejumlah alat bukti, kedua pelaku masih terus menyangkal perbuatannya.

"Sangkalan itu sudah kita siapkan semua jawabannya. Kalau tidak komplit begini. Tidak mungkin kita berani menetapkan pelaku pembunuhan seperti ini,’’ katanya.