IFBC Banner

Warga Desa di Myanmar Melawan Tentara dengan Senapan Berburu

Kamis, 01 April 2021 – 15:07 WIB

Empat polisi Myanmar yang menyamar ditangkap warga Desa Natchaung, di Kotapraja Kalay, Wilayah Sagaing, yang melakukan perlawanan dengan senapan berburu. Foto: Myanmar Now

Empat polisi Myanmar yang menyamar ditangkap warga Desa Natchaung, di Kotapraja Kalay, Wilayah Sagaing, yang melakukan perlawanan dengan senapan berburu. Foto: Myanmar Now

Kalay, REQNews.com -- Warga Desa Natchaung di Kotapraja Kalay, Wilayah Sagaing, Rabu 31 Maret, meladeni serbuan Tatmadaw, julukan untuk tentar Myanmar yang didominasi etnis Bamar, dengan senapan berburu produksi rumahan.

Militer Myanmar dan polisi menembak seorang penduduk di kepala ketika memasuki desa. Penduduk keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi, tapi diberondong senapan mesin.

Sebagian penduduk kembali masuk ke rumah. Sebagian dari mereka mengambil senapan rakitan yang biasa digunakan untuk berburu babi hutan, dan keluar rumah.

"Warga membalas tembakan dengan tentara dengan senalapan rakitan, dan bertahan dari berondongan," kata seorang warga Desa Natchaung.

Bukan pertempuran seimbang tapi herois. Empat warga meninggal dalam baku tembak ini, tapi tentara tak melanjutkan pertempuran dengan mengejar penduduk yang menyebar ke sekujur desa.

Myanmar Now menulis yang terjadi di Natchaung adalah bagian dari pola militer Myanmar memasuki seluruh Kalay dan meneror warga sipil.

Sejak 28 Maret, militer myanmar mengintensifkan tindakan keras di lokasi protes Kalay. Mereka menghancurkan kamp protes di Jl Bogyoke, Tarhan, menewaskan empat orang.

Warga Kalay lainnya dibutuh tentara pada malam 28 Maret. Keesokan bari, warga membangun kembali kamp protes dan ratusan orang berkumpul melanjutkan aksi.

Saat itu, warga melihat empat orang tak dikenal dan menangkapnya. Hasil pemeriksaan memperlihatkan keempatnya adalah polisi yang menyamar.

Mereka adalah wakil polisi lalu lintas Ko Min, Sersan Thein Naing Oo, wakil sersan Nanda Min, dan petugas Phyo Thiha.

"Mereka datang tanpa senjata, hanya tongkat besi," kata seorang pengunjuk rasa. "Mereka datang untuk minum bir dan memata-matai kami."

Keempatnya ditahan di kamp protes dengan cara diikat. Warga tidak tahu apa yang akan dilakukan terhadap mereka.