Takut Kelaparan, Diplomat Asing Berbondong-bondong Tinggalkan Korea Utara

Jumat, 02 April 2021 – 23:48 WIB

Diplomat Rusia dan keluarganya membawa barang-barang dengan troli kereta api sejauh satu kilometer, sebelum meninggalkan Pyongyang. Foto: Kementerian Luar Negeri Rusia

Diplomat Rusia dan keluarganya membawa barang-barang dengan troli kereta api sejauh satu kilometer, sebelum meninggalkan Pyongyang. Foto: Kementerian Luar Negeri Rusia


Pyongyang, REQNews.com -- Diplomat asing dan pekerja bantuan kemanusiaan berbondong-bondong tinggalkan Korea utara akibat pembatasan yang menyebabkan kelangkaan bahan makanan.

Di lama Facebook resminya, Kedutaan Besar (Kedubes) Rusia di Pyongyang mengatakan eksodus itu terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini, menurut Kedubes Rusia, belum terjadi sebelumnya.

Rusia memperkirakan diplomat dan pekerja asing yang tersisa di Pyongyang saat ini 290, termasuk sembilan duta besar dan empat kuasa usaha. Sedangkan personel asing yang bekerja untuk LSM dan organisasi kemanusiaan telah pergi.

"Tidak semua orang dapat menahan kerasnya pembatasan total yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Kedubes Rusia dalam posting Facebook-nya.

Korut mengalami kekurangan barang-barang yang diperlukan, termasuk obat-obatan, serta tidak ada pemecahan masalah kesehatan.

Sekitar 38 orang warga asing terinfeksi virus korona, dan menjalani karantina di Cina. Kini semuanya dinyatakan sembuh.

Sebelum pandemi Covid-19, Rusia memiliki misi diplomatik besar di Korut. Setelah pandemi, kehadiran diplomat Rusia menyusut.

Mereka yang bertahan di Pyongyang harus hidup berbulan-bulan dengan langkah kesehatan yang ketat, dan harus mengatasi kekurangan ekstrem akan barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Perbatasan Korut-Cina secara efektif terkunci berulan-bulan, sebagian bagian upaya rezim Kim Jong-un mencegah Covid-19. Namun tindakan itu menelantarkan diplomat yang beroprasi di Pyongyang.

Air Korya, maskapai penerbangan Korut, hanya melayani Pyongyang-Vlaivostok di Rusia timur. Belakangan, rute ini ditutup.

Akibatnya, meninggalkan Korut bukan sesuatu yang mudah. Februari lalu, beberapa diplomat Rusia menghabiskan 34 jam untuk keluar dari Korut melalui perjalanan melelahkan

Anak-anak dan wanita mendorong troli kereta api di atas rel kereta api. Jika rel menurun, anak-anak dan wanita naik ke atas troli untuk melepas lelah, seraya mengontrol kecepatan.

Para ahli percaya Kim Jong-un memutuskan hampir semua hubungan Korut dengan dunia luar karena tahu sistem kesehatan negaranya sangat bobrok. Pyongyang akan kewalahan menghadapi pandemi.

Dari sudut pandang kesehatan, strategi Kim Jong-un berhasil. Korut belum melaporkan kasus infeksi sedemikian besar dan kematian. Tidak ada indikasi semua itu akan terjadi, kendati banyak pakar meragukan klaim Pyongyang.

Diplomat, pekerja bantuan, dan LSM, meninggalkan Korut karena tidak ingin menghadapi risiko terdampar. Maklum, Pyongyang sama sekali tidak fleksibel dalam soal pembatasan.

Situasi ini membuat sumber informasi Barat tentang kehidupan di Korut menyusut, dan Rusia mencoba mengisinya. Korut saat ini dikenal sebagai negara paling tertutup di dunia.

Dubes Rusia untuk Korut Alexander Matsegora mengatakan toko bahan makanan mulai kosong, menyusul keputusan Pyongyang menghentikan impor pada September 2020. Komentar ini mengejutkan karena Korut menikmati hubungan mesra dengan Rusia.

Kim Jong-un mengakui ekonomi Korut menderita luar biasa akibat pandemi virus korona, namun tidak mengakui pasokan makanannya sedang tertekan.