Kelompok Etnis Bergerak, Myanmar di Ambang Perang Saudara

Kamis, 08 April 2021 – 03:02 WIB

Ilustrasi tentara Myanmar

Ilustrasi tentara Myanmar

JAKARTA, REQnews - Situasi di Myanmar semakin tak menentu usai kudeta yang dilakukan militer pada awal Februari 2021 lalu. Kini, negara tersebut terancam perang saudara.

Kelompok-kelompok etnis bersenjata dilaporkan akan melakukan pergerakan melawan junta militer yang telah membantai warga sipil dan demonstran.

Salah satu kelompok etnis yang akan bergerak adalah Dewan Pemulihan Negara Bagian Shan (RCSS) dan sayapnya, Tentara Negara Bagian Shan (SSA).

Pemimpin RCSS dan SSA Jenderal Jawd Serk mengatakan, perang saudara ini tampaknya sulit dicegah, bila penguasa militer Jenderal Min Aung Hlaing tak mau menyerahkan kekuasaan kembali pada rakyat.

"Dunia telah berubah. Saya melihat orang-orang di kota tidak akan menyerah. Dan saya melihat Min Aung Hlaing tidak akan menyerah. Saya pikir ada kemungkinan perang saudara akan terjadi," kata Yawd Serk, seperti dikutip dari CNN, Rabu 7 April 2021.

Yawd Serk bukan nama sembarangan. Ia adalah pengontrol wilayah timur Myanmar dan telah lama memimpin perang melawan militer untuk mendapatkan hak dan otonomi lebih besar selama 70 tahun.

Sejak militer merebut kekuasaan pada 1 Februari, banyak dari kelompok pemberontak ini termasuk RCSS telah menyatakan dukungan untuk protes nasional tanpa kekerasan.

Sebelumnya, kedua kelompok ini mengutuk keras penggunaan kekerasan dan pembantaian yang dilakukan pasukan pengamanan terhadap para demonstran dan warga sipil.

"Jika militer Myanmar tidak berhenti membunuh warga sipil, kami akan bergabung dengan revolusi musim semi dengan semua etnis untuk aksi pertahanan diri," kata Jenderal Yawd Serk.

"Jika militer terus menembak dan membunuh orang, itu berarti junta telah mengubah diri mereka menjadi teroris," ujar dia menambahkan.