"Pak Jokowi, Depan Istana, Ada Orang Susah, Tolong...!"

Rabu, 06 Februari 2019 – 17:00 WIB

Anggota DPRD Kabupaten Mimika, Papua, Aser Gobai (Foto: REQnews/Bosko)

Anggota DPRD Kabupaten Mimika, Papua, Aser Gobai (Foto: REQnews/Bosko)

JAKARTA, REQnews – Perjuangan 8000-an pekerja mogok yang mengalami PHK sepihak dari manajemen PT Freeport Indonesia (PTFI) masih belum mendapatkan titik terang. Sejumlah 40-an pekerja yang mewakili 8000 pekerja tersebut, kini "menginap" di seberang Istana Merdeka atau di depan pintu gerbang bagian barat Monas, Jakarta Pusat. Anggota DPRP Papua, Laurensius Kadepa dan Anggota DPRD Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Aser Gobai, memohon belaskasihan Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk 8000-an pekerja mogok ini yang juga memiliki tanggungan anak dan istri yang jumlahnya lebih dari 30 ribu orang.

Aser Gobai mengatakan, keberadaan para pekerja di depan Istana Presiden merupakan salah satu puncak dari kekesalan 8000-an pekerja yang di-PHK sepihak PTFI. Aparat penegak hukum dan lembaga peradilan juga jauh dari keadilan. Pihak Kementerian Tenaga Kerja yang seharusnya melindungi para pekerja, justru memilih untuk melindungi PTFI. Pihak lain terkait juga setali tiga uang.

“Bapak Presiden, Pak Joko Widodo atau Pak Jokowi adalah harapan terakhir. Melalui media ini kami sampaikan, Pak…, di depan istana Bapak, ada orang lagi susah dari tanah Papua. Mereka perwakilan 8000-an pekerja mogok yang di-PHK sepihak Freeport. Mereka mengharapkan keadilan. Mereka sudah berjuang ke mana-mana tetapi yang didatangi semua masa bodoh. Sekarang mereka datang langsung pada Bapak. Tolong terima mereka, tolong keluarga mereka, dengarkan aspirasi mereka!” demikian permintaan dan harapan Aser Gobai seperti yang disampaikan pada REQnews Selasa (5/2/2019) malam.

Sementara itu Anggota Komisi I DPRP Papua, Bidang Hukum & HAM, Laurenzus Kadepa, menyoroti peran dan fungi serikat pekerja yang seharusnya melindungi 8000-an pekerja mogok PTFI.

Laurenzus Kadepa (Foto Dokpri)

Kata Laurenzus, “Ini juga tugas aktivis serikat pekerja. Mereka bukan cuma obral janji tapi buktikan kerja nyata. Bukan hanya bertugas ngumpulin iuran tapi hasil perjuangan tidak ada. Serikat Pekerja berjuang untuk mensejahterakan pekerja dan menjadi mitra perusahaan. Jadi serikat pekerja tidak bisa cuma bisa sibuk ngumpulin iuran dan tidak berjuang untuk pekerja, lalu lebih peduli pada kebijakan aturan perusahaan yang tidak pro-pekerja. Jadilah manusia yang bermanfaat, jangan hanya jadi manusia yang dimanfaatkan sebagai boneka.”(*/Bos)