Drone Cina di Atas Kepala Pengunjuk Rasa Myanmar

Sabtu, 10 April 2021 – 18:08 WIB

Foto: uasvision.com

Foto: uasvision.com

Yangon, REQNews.com -- Rusia menyediakan perangkat keras, sistem pengawasan digital, dan jet tempur terbaru untuk Myanmar. Bagaimana dengan Cina?

Jane’s International Defence Review memberitakan Cina menyuplai pesawat tak berawak (UAV) kepada Angkatan Udara Myanmar. Drone itu dikabarkan digunakan untuk memantau pengunjuk anti-rezim brutal di jalanan.

Mengutip gambar di media sosial yang diambil Maret lalu, Jane melaporkan drone buatan Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) terbang rendah di atas Mandalay saat protes meletus.

Penampakan drone yang direkam warga menjadi penting karena kerahasiaan bagaimana Tatmadaw, julukan Angkatan Bersenjata Myanmar, mengoperasikannya.

Drone yang dioperasikan bukan satu tapi dua. Keduanya terbang rendah untuk dilihat dengan mata telanjang. Tujuan pengoperasian, menurut laporan itu, untuk mengintimidasi penduduk, mengumpulkan data intelejen, dan bagian taktik perang psikologis.

"Bagi Tatmadaw, efek psikologis yang merusak pada akirnya memberi keuntungan kritis untuk mengalahkan rakyat," tulis Jane.

Para ahli percaya sekitar 10 sampai 12 drone dikirim ke Myanmar antara 2013 dan 2015, dan dioperasikan AU Myanmar dari Pangkalan Meiktila, Myanmar tengah.


Protes anti-Cina

Cina telah lama menajdi sekutu terdekat Myanmar. Menlu Cina Wang Yi bertemu Jenderal Min Aung Hlaing, pemimpin kudeta, 20 hari sebelum kudeta yang mengakhiri kekuasaan pemerintah sipil.

Selama pertemuan Jenderal Min Aung Hlaing berbagi informasi tentang kecurangan pemilu. Setelah kudeta 1 Februari, Cina menyebut pengambil-alihan kekuasaan sebagai perombakan kabinet besar-besaran.

Dunia internasional mengutuk kudeta, tapi Cina danbRusia memblokir upaya Dewan Keamanan PBB mengutuk kudeta itu. Beijing dan Moskwa membela rezim militer Myanmar pada sesi khusus Dewan Hak Asasi Manusia PBB.

Menurut keduanya, perebutan kekuasaan di Myanmar adalah urusan internal.

Sikap ini memicu protes anti-Cina di Yangon. Beijing merespon dengan meminta rezim brutal Myanmar melindungi investasi Cina di sekujur negeri itu, dan menjaga jaringan pipa gas dan minyak.

Sebanyak 32 pabrik milik pengusaha Cina dibakar. Global Times menuding pengunjuk rasa yang melakukan. Pengunjuk rasa mengatakan yang membakar pabrik-pabrik itu justru militer Myanmar, untuk membenarkan tindakannya membunuh penduduk.

Bulan lalu, pendukung pro-demokrasi Myanmar menyeru agar Kedubes Cina di Yangon ditutup, setelah Beijing kembali memblokir upaya DK PBB menghentikan pertumpahan darah di Myanmar.