IFBC Banner

Akhirnya Kombes Ahmad Ramadhan Ungkap Peran Dua Polisi Tersangka Unlawful Killing, Ini Penjelasannya

Rabu, 28 April 2021 – 06:00 WIB

Ilustrasi Eks FPI (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Eks FPI (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Mabes Polri akhirnya mengungkap identitas dan peran dua anggota polisi yang jadi tersangka dalam kasus unlawful killing anggota laskar Front Pembela Islam (FPI).

IFBC Banner


Adalah Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes (Pol) Ahmad Ramadhan yang mengungkap keduanya adalah F dan Y, anggota Polda Metro Jaya.

"Kasus meninggalnya empat orang laskar FPI yang diduga dilakukan oleh saudara F dan Y," kata Ramadhan di Mabes Polri, Jakarta, Selasa 27 April 2021.

Dalam kasus ini F adalah anggota polisi yang melakukan penembakan. Sementara itu, Y menyetir mobil.

Keduanya disangka melanggar Pasal 338 jo Pasal 56 KUHP. "Yang satu dikenakan (Pasal) 338. Yang F (yang menembak). Yang Y (Pasal) 56. Dia driver," ujarnya.

Saat ini, penyidik Bareskrim Polri telah menyerahkan berkas perkara unlawful killing yang menewaskan empat anggota laskar FPI itu ke Kejaksaan RI.

Berkas perkara diterima langsung oleh Kasubdit Pra Penuntutan Kejaksaan RI, Senin 26 April 2021. Jumlah tersangka semestinya ada tiga, tetapi satu orang lainnya yaitu EPZ dinyatakan meninggal dunia pada 4 Januari 2021.

Penyidikan terhadap EPZ pun dihentikan. Sementara itu, penyidikan terhadap F dan Y dilanjutkan

Ramadhan menyatakan, selanjutnya berkas perkara akan dipelajari oleh jaksa penuntut umum (JPU) dalam kurun waktu 14 hari.

Menurutnya, penyidik Bareskrim Polri siap melakukan perbaikan jika diminta. "Tentu JPU akan mempelajari terlebih dahulu, bila ada perbaikan akan diperbaiki. Jadi belum dinyatakan lengkap," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, peristiwa dugaan unlawful killing terhadap anggota laskar FPI itu terjadi di Kilometer 50 Tol Jakarta-Cikampek pada 7 Desember 2020.

Pengusutan perkara oleh Polri ini berangkat dari investigasi Komnas HAM yang menyimpulkan tewasnya empat dari enam anggota laskar FPI merupakan pelanggaran HAM.

Sebab, keempatnya tewas ketika sudah dalam penguasaan aparat kepolisian. Atas kesimpulan itu, Komnas HAM merekomendasikan agar tewasnya empat anggota laskar FPI dilanjutkan ke pengadilan pidana.