Situs Manusia Purba Berusia 350.000 Tahun Ditemukan, Ternyata Arab Pernah Hijau

Sabtu, 15 Mei 2021 – 22:01 WIB

Situs purba di Arab Saudi (Foto:Istimewa)

Situs purba di Arab Saudi (Foto:Istimewa)

RIYADH, REQNews – Sebuah situs arkeologi penting ditemukan di gurun pasir wilayah Hail, di bagian utara Arab Saudi. Situs itu menunjukkan tanda-tanda aktivitas manusia purba yang berusia 350.000 tahun.

Menurut sebuah laporan ilmiah yang diterbitkan di jurnal Nature, situs yang dinamai an-Nasim itu adalah situs periode zaman batu pertama yang ditemukan di Gurun Nefud.

Situs itu menyisakan peninggalan berupa perkakas dengan gaya khas Acheulean, yakni peralatan dari batu berbentuk oval dan buah pir.

Menurut para arkeolog, teknologi Acheulean diyakini telah dikembangkan sekitar 1,7 juta tahun yang lalu oleh manusia purba yang mendahului homo sapiens modern.
Peralatan batu seperti kapak tangan itu tetap digunakan hingga 130.000 tahun silam. Laporan ilmiah berjudul “Ekspansi Hominin Acheulean ke Gurun Nefud Arab” itu mencatat, sampai sekarang, pengetahuan perinci tentang peradaban Acheulean di Semenanjung Arabia masih terbatas pada satu situs Saffaqah di bagian tengah Saudi.

Namun, perkakas serupa ternyata juga ditemukan di Gurun Nefud. Para peneliti di an-Nasim menemukan bukti bahwa di kawasan itu dulunya terdapat danau yang dalam—yang kemungkinan menampung air tawar.

Selain itu, ditemukan pula fitur-fitur yang terkait dengan era Pleistosen Tengah (780.000 hingga 130.000 tahun yang lalu).

CEO Komisi Warisan Budaya Arab Saudi, Jasir Al-Harbash mengatakan, banyak situs prasejarah yang telah ditemukan dan sedang dipelajari di negara itu. Namun, penemuan di Gurun Nefud kali ini menurut dia sangatlah penting.

“Karena itu adalah situs tertua dari periode Acheulean di Arab Saudi,” tuturnya kepada Arab News.

Survei oleh Green Arabian Project (GAP) dalam 10 tahun terakhir telah mengonfirmasi bahwa Jazirah Arab mengalami perubahan iklim selama era Pleistosen yang menghasilkan kondisi basah. Hal tersebut memengaruhi pergerakan dan persebaran manusia di dalam dan antarbenua pada masa itu.

Pengaruh itu terutama terjadi pada masyarakat Acheulean, yang tampaknya lebih terikat pada sumber-sumber air daripada yang lain.

Perkakas batu yang ditemukan di situs an-Nasim mungkin menunjukkan aktivitas manusia yang cukup dinamis di Semenanjung Arabia pada era Pleistosen Tengah.

Pada masa itu, Jazirah Arab mengalami fase iklim yang lebih basah dan ditumbuhi beragam flora, sehingga disebut juga sebagai zaman “Arab Hijau”.

Situs an-Nasim mencakup cekungan yang dalam dan sempit dengan singkapan di bagian tengahnya, tempat beberapa artefak dari awal era Paleolitik ditemukan.

Sekitar 354 barang dikumpulkan, terutama kapak tangan dan “serpihan” yang dipotong dari inti batu. Survei menemukan bahwa material arkeologi itu terkait erat dengan keberadaan danau di kawasan tersebut.

Laporan itu juga mencatat bahwa alat-alat batu tersebut mirip dengan perkakas tak bertanggal yang ditemukan di tempat lain di Gurun Nefud. Perkakas Acheulean di an-Nasim berasal dari era Pleistosen Tengah akhir, sekitar 350.000 hingga 250.000 tahun yang lalu, ketika pembentukan danau tersebar luas di Gurun Nefud. Sebagai perbandingan, alat bantu yang ditemukan di situs di Saffaqah berasal dari sekitar 240.000 hingga 190.000 tahun yang lalu.

Kesamaan antara material Acheulean yang ditemukan di an-Nasim dan situs Acheulean tak bertanggal lainnya di Gurun Nefud menunjukkan bahwa danau-danau di sana dulunya menyediakan sumber daya penting bagi perkembangan manusia yang mendiami di wilayah itu.

Temuan itu sekaligus mengisyaratkan bahwa lingkungan di kawasan itu pernah menjadi tempat tinggal yang layak bagi manusia dan mamalia lainnya. Bukti beragamnya spesies mamalia kecil hingga besar dapat ditemukan di situs palaeolakes di Nefud. Ini menunjukkan adanya migrasi hewan ke wilayah tersebut selama fase basah Semenanjung Arabia dan ketersediaan fauna sebagai sumber makanan di cekungan an-Nasim.