Dukung Israel Biden Minta Hamas Setop Serangan, Menteri Pakistan Sebut Palestina Dibantai

Minggu, 16 Mei 2021 – 14:02 WIB

Dokumen istimewa

Dokumen istimewa

JAKARTA, REQnews - Penggunaan kata "konflik" yang disampakan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres untuk menggambarkan situasi di Palestina, dianggap tak tepat oleh Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Pakistan Shireen Mazari.

Melalui akun Twitter-nya pada Sabtu, 15 Mei 2021, Mazari menegaskan bahwa apa yang terjadi antara Palestina dan Israel bukanlah konflik, melainkan upaya Israel untuk "membantai" Palestina. "Dengan hormat sekretaris jenderal yang terhormat, ini bukan konflik, tetapi pembantaian oleh kekuatan pendudukan, dan PBB perlu menegakkan tanggung jawabnya untuk melindungi rakyat Palestina dari terorisme negara israel," ujarnya.

"Ingat Charter VII dari Piagam PBB!" tambahnya, merujuk pada bagian yang memungkinkan Dewan Keamanan PBB menentukan adanya ancaman terhadap perdamaian atau tindakan agresi, untuk mengambil tindakan militer dan nonmiliter demi memulihkan perdamaian dan keamanan internasional.

Dimuat Anadolu Agency, Guterres pada Jumat, 14 Mei 2021, menyerukan de-eskalasi dan penghentian permusuhan di Gaza dan Israel. "Saya mengimbau agar segera meredakan dan menghentikan permusuhan di Gaza dan Israel. Terlalu banyak warga sipil tak berdosa telah tewas. Konflik ini hanya dapat meningkatkan radikalisasi dan ekstremisme di seluruh wilayah," jelasnya.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menekan Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk meminta Hamas menghentikan serangan roket ke Israel. Hal itu disampaikan oleh Biden dalam panggilan telepon dengan Abbas pada Sabtu, 15 Mei 2021, seperti dikutip Anadolu Agency.

"Biden memperbarui Presiden Abbas tentang keterlibatan diplomatik AS pada konflik yang sedang berlangsung dan menekankan perlunya Hamas untuk menghentikan penembakan roket ke Israel," kata Gedung Putih.

"Mereka mengungkapkan keprihatinan bersama bahwa warga sipil tak berdosa, termasuk anak-anak, secara tragis kehilangan nyawa mereka di tengah kekerasan yang sedang berlangsung," tambahnya.

Lebih lanjut, Gedung Putih mengatakan, Biden juga menyampaikan dukungan atas langkah-langkah yang memungkinkan rakyat Palestina menikmati martabat, keamanan, kebebasan, dan peluang ekonomi yang layak mereka dapatkan.

Dalam hal itu, ia menyoroti keputusan AS baru-baru ini untuk melanjutkan bantuan kepada rakyat Palestina, termasuk ekonomi dan bantuan kemanusiaan.

Sementara itu pada hari yang sama, Biden juga melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Menurut Gedung Putih, Biden menegaskan kembali dukungannya yang kuat untuk hak Israel mempertahankan diri dari serangan roket Hamas.

"Presiden mencatat bahwa periode konflik saat ini secara tragis telah merenggut nyawa warga sipil Israel dan Palestina, termasuk anak-anak. Dia menyuarakan keprihatinan tentang keselamatan dan keamanan jurnalis dan memperkuat kebutuhan untuk memastikan perlindungan mereka," kata Gedung Putih.

"Presiden berbagi keprihatinan besar tentang kekerasan antarkomune di seluruh Israel. Dia menyambut baik pernyataan Perdana Menteri dan pemimpin lain yang menentang tindakan kebencian tersebut dan mendorong langkah lanjutan untuk meminta pertanggungjawaban ekstremis brutal dan untuk membangun ketenangan," tambahnya.

Seruan itu muncul setelah pesawat tempur Israel meratakan gedung bertingkat yang menampung kantor beberapa media, termasuk The Associated Press, Al-Jazeera, di Kota Gaza.

Sejak serangan terjadi pada 10 Mei, sedikitnya 139 orang, termasuk 39 anak-anak dan 22 wanita tewas, dengan 950 orang lainnya terluka. Sementara di Israel, delapan orang tewas dalam serangan yang berasal dari Gaza.