IFBC Banner

Biar Gak Dicegat Debt Collector di Atas Awan, Garuda Indonesia Kembalikan 2 Pesawat ke Lessor

Selasa, 08 Juni 2021 – 10:18 WIB

Garuda Indonesia tengah terpuruk akibat dampak pandemi Covid-19 yang membuat rendahnya jumlah penumpang (Foto: Istimewa)

Garuda Indonesia tengah terpuruk akibat dampak pandemi Covid-19 yang membuat rendahnya jumlah penumpang (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Garuda Indonesia memutuskan percepatan pengembalian 2 pesawat ke lessor yang belum jatuh tempo masa sewanya.

 

Hal ini dilakukan sebagai upaya intensif pemulihan kinerja keuangan perseroan yang tengah terpuruk.

Menurut Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra, langkah strategis itu ditandai dengan pengembalian dua armada B737-800 NG kepada salah satu lessor atau perusahaan penyewa pesawat.

Kata Irfan, percepatan pengembalian itu dilakukan setelah adanya kesepakatan bersama antara Garuda Indonesia dan pihak lessor pesawat, di mana salah satu syarat pengembalian pesawat adalah dengan melakukan perubahan kode registrasi pesawat terkait.

"Percepatan pengembalian armada yang belum jatuh tempo masa sewanya, merupakan bagian dari langkah strategis Garuda Indonesia dalam mengoptimalisasikan produktivitas armada dengan mempercepat jangka waktu sewa pesawat," kata Irfan dalam keterangannya, Senin 7 Juni 2021.

Dia mengungkapkan, pengembalian armada yang belum jatuh tempo merupakan langkah penting yang perlu dilakukan Garuda Indonesia di tengah tekanan kinerja usaha imbas pandemi Covid-19.

 

"Saat ini, kami juga terus menjalin komunikasi bersama lessor pesawat lainnya, tentunya dengan mengedepankan aspek legalitas dan compliance yang berlaku," ucapnya.

Sebelumnya diketahui, bahwa kondisi keuangan Garuda Indonesia tengah terpuruk akibat akibat dampak pandemi Covid-19 yang membuat rendahnya jumlah penumpang.

Utang perseroan menumpuk hingga mencapai Rp 70 triliun dan diperkirakan terus bertambah sekitar Rp 1 triliun tiap bulannya.

Berdasarkan data Kementerian BUMN, beban biaya Garuda Indonesia mencapai 150 juta dollar AS per bulan, namun pendapatan yang dimiliki hanya 50 juta dollar AS.

Artinya perusahaan merugi 100 juta dollar AS atau sekitar 1,43 triliun (kurs Rp 14.300 per dollar AS) setiap bulannya.

Selain terpengaruh pandemi Covid-19, menurut Menteri BUMN Erick Thohir, persoalan yang juga mempengaruhi keuangan Garuda Indonesia adalah terkait lessor. Maskapai ini tercatat bekerja sama dengan 36 lessor. Sebagian lessor tersebut terlibat dalam tindakan koruptif dengan manajemen lama.

"Kami juga mesti jujur, ada lessor yang tidak ikutan dengan kasus itu, tetapi pada hari ini kemahalan karena ya kondisi. Itu yang kami juga harus negosiasi ulang. Nah beban terberat saya rasa itu," kata Erick.