Pihak Lion Air Angkat Bicara, Begini Kronologi Wakil Bupati Sangihe Meninggal di Pesawat

Kamis, 10 Juni 2021 – 15:31 WIB

Ilustrasi Wakil Bupati Sangihe meninggal di pesawat Lion Air. (Foto: ngopibareng.id)

Ilustrasi Wakil Bupati Sangihe meninggal di pesawat Lion Air. (Foto: ngopibareng.id)

MANADO, REQnews - Kabar duka datang dari Wakil Bupati Sangihe, Helmud Hontong. Helmud Hontong meninggal dunia di pesawat pada Rabu, 9 Juni 2021.

Almarhum meninggal di pesawat Lion Air dalam perjalanan dari Bali menuju Makassar. Terkait peristiwa ini, pihak maskapai Lion Air pun angkat bicara memberikan penjelasan.

Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro menjelaskan, Helmud Hontong naik pesawat dengan penerbangan nomor JT-740 rute dari Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Denpasar di Badung, Bali (DPS) menuju Makassar.

Pesawat itu terbang dari Bali dengan tujuan Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Maros, Sulawesi Selatan (UPG). Diungkapkan Danang, penerbangan pesawat Lion Air JT-740 itu sudah sesuai standar prosedur (SOP).

"Lion Air penerbangan JT-740 dipersiapkan secara baik. Semua penumpang serta awak pesawat sudah menjalani pemeriksaan kesehatan Covid-19 dengan dinyatakan negatif dan sebelum masuk ke pesawat udara (ketika berada di terminal keberangkatan) surat hasil uji kesehatan sudah diverifikasi oleh petugas medis dari lembaga yang berwenang," kata Danang, dikutip Kamis, 10 Juni 2021.

Lebih lanjut ia mengatakan, Lion Air mengoperasikan pesawat Boeing 737-900ER registrasi PK-LPY yang telah menjalani pemeriksaan sebelum keberangkatan (pre-flight check) dan dinyatakan laik terbang dan beroperasi (airworthy for flight).

Jadwal keberangkatan JT-740 pukul 15.08 WITA dan dijadwalkan tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin pada 16.08 WITA.

"Pada pukul 15.40 WITA, HH membutuhkan pertolongan medis lebih lanjut. Pimpinan awak kabin bersama kru kabin lainnya menghampiri langsung guna mengetahui kondisi aktual penumpang," katanya.

"Setelah mendapatkan informasi detail dan pengamatan, SFA segera melakukan pengumuman (announcement) apakah dalam penerbangan terdapat profesi dokter atau tenaga medis," ujarnya.

Di penerbangan JT-740 ternyata terdapat tenaga medis (kesehatan), yang dibuktikan dengan tanda identitas secara resmi.

"Menurut prosedur kerja penanganan penumpang, awak kabin segera memberikan POB (tabung oksigen portabel) dengan tindakan melonggarkan pakaian yang mengikat, membersihkan wajah penumpang, menyandarkan kursi serta memasangkan masker oksigen," lanjut Danang.

Dalam situasi seperti itu guna memberikan pelayanan terbaik, pilot setelah koordinasi dengan awak kabin memutuskan untuk mengarahkan penerbangan ke bandar udara terdekat.

Saat itu, bandara terdekat adalah Bandar Udara Internasional Hasanuddin (sebagai bandar udara tujuan).

Pilot kemudian menginformasikan kepada petugas lalu lintas udara dan petugas darat (ground operation control), dalam penerbangan terdapat satu penumpang yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

"Pukul 16.10 WITA, petugas layanan darat (ground handling) Lion Air di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin menghubungi tim medis di bandar udara," katanya.

"Pesawat mendarat pada 16.17 WITA, ketika posisi pesawat sudah sempurna dan berada di landas parkir (apron) tim medis bersama petugas Lion Air melakukan penanganan dan penjemputan dari pintu pesawat bagian belakang, kemudian dilakukan pemeriksaan dan pertolongan," ungkapnya.

Lion Air, kata Danang, mendapatkan informasi dari pihak tim medis bahwa penumpang inisial HH meninggal dunia.

"Atas nama manajemen dan seluruh karyawan Lion Air mengucapkan duka cita mendalam atas meninggalnya penumpang HH," katanya.