Di Saat Pandemi, Kamboja Jadi Produsen Narkoba Terbesar

Kamis, 10 Juni 2021 – 16:10 WIB

Foto: phnompenhpost.com

Foto: phnompenhpost.com

Phnom Penh, REQNews -- Kamboja muncul sebagai produsen metamfetamin, narkoba yang di Asia Tenggara populer dengan sebutan shabu, terbesar dan penyelundup piawai menemukan cara mengindari pembatasan Covid-19 dan mendiversifikasi produk.

Kantor Narkoba dan Kejahatan PBB (UNODC) mengatakan produksi dan perdagangan narkoba di kawasan Asia mengalami gangguan jangka pendek selama puncak pandemi, tapi pulih dan naik ke tingkat lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

Ini terlihat dari penyitaan 170 ton shabu oleh pihak berwenang Asia sepanjang 2020. Jumlah ini naik 19 persen dibanding tahun 2019.

"Saat pandemi menyebabkan ekonomi global melambat, sindikat perdagangan narkoba mendominasi kawasan. Caranya, beradaptasi dengan cepat dan memanfaatkan situasi," kata Jeremy Douglas, perwakilan regional UNODC Asia Tenggara dan Pasifik.

Untuk menghindari pembatasan Covid-19, kelompok kriminal mengangkut narkoba melalui Laos, negara kecil dengan penegakan hukum yang buruk, ke pusat perdagangan di Thailand dan Vietnam.

UNODC juga mencatat munculnya produksi shabu skala besar di Kamoja. Namun, output Kamboja dikerdilkan oleh negara bagian Shan, Myanmar, yang merupakan bagian dari segitiga emas.

"Sepertinya kejahatan terorganisir sedikit melakukan lindung nilai, dengan menggeser kegiatan produksi ke Kamboja," kata Douglas.

Harga grosir shabu menurun di Kamboja, Malaysia, dan Thailand, akibat lonjakan pasokan. UNODC mengaitkan kenaikan pasikan dengan kemudahan memperoleh prekursor untuk memproduksi shabu dan narkoba lainnay.

Pasokan obat-obatan sintetis seperti ekstasi, kanabinoid, dan ketamin, juga telah meluas ke seluruh wilayah Asia Tenggara.