Putra Muammar Gaddafi Incar Kursi Orang Nomor Satu Libya

Jumat, 11 Juni 2021 – 20:17 WIB

Foto: Russia Today

Foto: Russia Today

Tripoli, REQNews.com -- Saif al-Islam Gaddafi, putra pemilih Libya Muammar Gaddafi, mengincar posisi nomor satu Libya tepat satu dekade setelah ayahnya digulingkan dan dibunu pemberontak dukungan NATO yang memicu kerusuhan sipil bertahun-tahun.

Russia Today melaporkan Saif al-Islam mendekati diplomat Barat dan lainnya saat berusaha memasuki kembali kehidupan politik Libya. Times melaporkan publik Libya memandangnya sebagai penerus ayahnya, dan mendapat dukungan untuk maju dalam pemilihan presiden 24 Desember mendatang.

Berbicara kepada wartawan yang menghubunginya, Saif al-Islam mengkonfirmasi hubungannya dengan tim pansehat yang bertindak atas namanya. Ia diperkirakan akan mengumumkan ambisi politiknya secara terbuka dalam waktu dekat.

Masih belum jelas apakah dia diijinkan mencalonkan diri atau tidak. Sebab, undang-undang pemily yang baru -- sampai saat ini masih disusun -- berpotensi mengecualikannya dari partisipasi.

Saif al-Islam, kini berusia 48 tahun, ditangkap dan dipenjarakan militan Libya tahun 2011. Dia dibebaskan para penculiknya enam tahun kemudian di bawah perjanjian ambesti.

Sejak itu Saif al-Islam terus bersembunyi. Dia masih menghadapi surat perintah penangkapan di Libya. Ia juga dicari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Beberapa saudara kandungnya masih di penjara di Libya dan di luar negeri.

Sumber Times mengatakan surat perintah ICC bisa ditarik. Menlu AS Anthony Blinken, pendukung vokal kampanye NATO di Libya, kemungkinan akan menentang gagasan Saif al-Islam mencalonkan diri.

Saif al-Islam menjadi berita utama tahun 2018, setelah Bloomberg melaporkan bahwa diplomat Rusia berbicara dengannya melalui tautan video. Pembicaraan terjadi tak lama setelah Saif al-Islam dibebaskan dari penjara. Juru bicara keluarga Gaddafi mengatakan Saif al-Islam ingin mencalonkan diri sebagai presiden.

Moswa merespon laporan Bloomberg dengan mengatakan tidak seorang pun harus dikecualikan dalam proses politik Libya. Sampai saat ini Rusia masih berhubungan denga Keluarga Gaddafi.

Libya terjerumus ke dalam perang saudara setelah penggulingan Muammar Gaddafi. Negeri terpecah antara pemerintah Kesepakatan Nasional yang berbasis di Tripoli dan komandan militer Haftar yang mengendalikan sebelah timur Libya.

Kini keduanya sepakat menyelesaikan perselisihan dan mendukung pemerintahan pusat. Abdul Hamid Dbeibeh ditunjuk sebagai perdana menteri untk memimpin pemerintahan sementara.