Tulisan Ilmiahnya Dinilai Puji Diri Sendiri, Jawaban Megawati Bikin Sesak Dada Rakyat Jelata

Sabtu, 12 Juni 2021 – 02:03 WIB

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri

JAKARTA, REQnews - Tulisan ilmiah Megawati Soekarnoputri yang dipaparkan saat penganugerahan gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Pertahanan dikritik krena dinilai sebagai upaya memuji diri sendiri.

Karya ilmiah tersebut mengulas kepemimpinan Megawati sebagai presiden periode 2001-2004 untuk memperoleh gelar profesor kehormatan dari Universitas Pertahanan RI.

Ketum PDI Perjuangan (PDIP) itu pun tak terima dengan penilaian tersebut. Dia menyebut sudah terlalu kenyang dengan banyaknya pujian dari pihak lain jika dia dianggap memuji diri sendiri.

Dengan bangganya Megawati mengatakan, bahwa sejak bayi sudah dijaga atau mendapat hak istimewa sebagai anak Presiden Soekarno. Kelahirannya juga diumumkan oleh Kominfo yang pada masa itu menyebut jabatan Presiden sebagai paduka yang mulia.

"Dulu kan Presiden dibilang paduka yang mulia, dari paduka mulia Doktor Insinyur Soekarno telah lahir bla, bla, bla. Terus saya udah dijaga kan, dari bayi," kata Megawati saat orasi ilmiah pengukuhan gelar profesor kehormatan di Unhan RI, Jumat 11 Juni 2021.

Sehingga, dengan kehidupannya yang istimewa Megawati tidak perlu untuk memuji dirinya sendiri. Terlebih, ia pernah menjabat Presiden kelima RI.

"Jadi kalau dipikir saya mau memuji muji diri saya mau sok sokan, lah udah apa ya, udah wareg, udah kenyang. Jadi Presiden udah, jadi anak Presiden udah, alhamdulillah," ucapnya.

Sebelumnya, Analis politik Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun menilai tulisan ilmiah Megawati yang akan dipaparkan saat penganugerahan gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Pertahanan dinilai sebagai upaya memuji diri sendiri.

Bukan tanpa alasan, penilaian tersebut muncul lantaran Megawati menulis karya ilmiah tentang dirinya sendiri dengan judul "Kepemimpinan Presiden Megawati Pada Era Krisis Multidimensi, 2001-2004".

Badrun mengatakan, upaya penilaian diri sendiri yang dilakukan Megawati dalam karya ilmiahnya itu cukup aneh. Sebabnya, mengungkap jati diri seorang Megawati saat memimpin Indonesia.

"Soal isi materi pengukuhannya yang aneh karena menilai kepemimpinannya sendiri, itu menunjukkan betapa sangat subjektifnya seorang Megawati," kata analis yang karib disapa Ubed.

Dalam penagamatan Ubed, apa yang dilakukan Megawati secara etika moral nampak mengabaikan adab akademik yang harusnya dijunjung tinggi oleh seorang akademisi, atau yang akan menjadi akademisi. "Secara etik moral karya ilmiah itu menunjukan hasrat kuat Megawati yang mengabaikan adab akademik," tandasnya.

Padahal, kata Ubed, pemberian gelar Profesor Kehormatan hendaknya tidak dilakukan serampangan. Universitas, tambah Ubed, juga harus melihat kualitas calon penerima gelar tersebut.

Dalam tulisan ilmiah sebanyak 18 halaman itu, Megawati mengulas bagaimana ia menjalankan kepemimpinannya. Ia juga mengulas bagaimana kepemimpinan stratejiknya dalam mengatasi konflik Ambon, Poso dan juga pemulihan pasca insiden Bom Bali. Ia mengulas soal bagaimana kepemimpinan dalam bidang sosial, militer, lingkungan dan juga ekonomi.

Megawati Soekarnoputri resmi menyandang gelar profesor kehormatan yang diberikan Universitas Pertahanan RI. Megawati menyandang profesor ilmu pertahanan bidang kepemimpinan strategi.

"Atas nama segenap civitas akademika Universitas Pertahanan terlebih dahulu kami menghaturkan selamat kepada Profesor Doktor Honoris Causa Megawati Soekarnoputri atas pencapaian prestasi akademik yang membanggakan ini," kata Rektor Unhan RI Laksamana TNI Prof Amarulla Octavian, dalam tayangan youtube, Jumat, 11 Juni 2021.

Kemudian, ia mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar Megawati Soekarnoputri atas doa restu, dukungan dan peran penting yang diberikan selama ini.

Dia juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada senat akademik. Serta dewan guru besar Unhan RI atas promosi yang diberikan kepada Profesor Doktor Honoris Causa Megawati Soekarnoputri menjadi profesor kehormatan ilmu pertahanan bidang kepemimpinan strategi.

"Kami berharap sidang senat terbuka pengukuhan gelar kepada Presiden Republik Indonesia oleh Universitas Pertahanan Indonesia dapat menjadi tradisi intelektual sebagaimana lazimnya berlaku di universitas universitas pertahanan di negara lain," tandasnya.

Pemberian gelar ini juga berdasarkan surat keputusan Mendikbudristek RI Nomor 33231/mpk.a/kp.05.00/2021 tentang Pengangkatan dalam Jabatan Akademik Dosen Tidak Tetap yang memutuskan dan menetapkan dosen tidak tetap nama Megawati Soekarnoputri.

Turut hadir dalam pengukuhan ini Ketua MPR Bambang Soesatyo, Ketua DPR Puan Maharani, Menhan Prabowo Subianto, Mendikbudristek Nadiem Makarim, Mensos Tri Rismaharini, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono, MenPAN-RB Tjahjo Kumolo dan Seskab Pramono Anung.

Selain itu, ada Kepala BIN Budi Gunawan, Kasad Jenderal Andika Perkasa, Kasal Laksamana Yudo Margono, Kasau Fadjar Prasetyo. Turut hadir pula putra Megawati yakni Mohammad Rizki Pratama dan Mohammad Prananda Prabowo.