Suami Istri di Makassar Mengaku Deposito Rp 20 Miliar Raib di BNI

Rabu, 16 Juni 2021 – 18:32 WIB

BNI (Footo:Istimewa)

BNI (Footo:Istimewa)

MAKASSAR, REQNews - Dua orang di Makassar mengaku kehilangan uang depositonya di BNI sebesar Rp 20 miliar. Warga yang mengaku bernama Hendrik dan istrinya pun mengamuk di Kantor BNI Jalan Jenderal Sudirman, Makassar.

Sementara pihak BNI mengatakan pihaknya tidak menerima uang deposito tersebut.

Diduga nasabah tersebut menjadi korban pemalsuan bilyet deposito di Kantor Cabang BNI Makassar.

Dikutip dari KompasTV, pasutri tersebut telah dua bulan menunggu, namun mereka tak kunjung mendapatkan kejelasan nasib uang deposito sebanyak Rp 20 miliar, yang mereka depositokan di bank BNI.

Keributan ini pun sempat menjadi perhatian nasabah bank BNI sudirman, yang melihat kejadian tersebut, yang marah-marah karena uangnya yang hilang dari rekeningnya.

Hendrik menyebut ia dan ayahnya menggunakan layanan deposito, sejak tahun 2019 lalu dengan iming-iming bunga sebesar 8,25 persen perbulan, selama 2 tahun Hendrik tetap menerima pemberiantahuan masuknya bunga deposito, ke rekening koran miliknya hingga ia yakin uang 20 miliar miliknya tetap aman di bank BNI.

Namun pada bulan Februari 2021, ia kaget saat bermaksud mencairkan uang miliknya tidak ada di bank BNI, pemberitahuan dana masuk ke rekeningnya pun sudah berhenti sejak bulan maret 2021 lalu.

Sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI memastikan bahwa tidak ada dana yang masuk dari nasabah dalam kasus dugaan pemalsuan bilyet deposito di Kantor Cabang BNI Makassar.

BNI memilih penyelesaian secara hukum untuk mendapatkan titik terang terkait keberadaan dana yang sebelumnya telah dikeluhkan oleh nasabah tersebut.

“Kami telah menerima komplain nasabah dan menemukan adanya pemalsuan bilyet deposito BNI yang dipastikan tidak ada dana masuk dalam sistem kami, sehingga kami telah melaporkan kasus tersebut ke penegak hukum,” ujar Corporate Secretary BNI Mucharom di Jakarta, Rabu 16 Juni 2021.

Manajemen juga melaporkan seorang oknum pegawainya yang diduga menjadi perantara deposito bodong tersebut, karena pegawai tersebut tidak berkompeten mengurusi deposito di BNI.