Adik Eks Wakapolri Jadi Korban Deposito Fiktif, Merugi Hingga Rp 45 Miliar

Selasa, 14 September 2021 – 22:31 WIB

Ilustrasi Transaksi (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Transaksi (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Salah satu nasabah yang mengaku menjadi korban deposito fiktif sebesar Rp 45 miliar ternyata adalah adik eks Wakapolri Komjen Pol (Purn) Jusuf Manggabarani. Dia adalah Andi Idris Manggabarani nasabah Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI.

"Saya adik dari beliau, Jusuf Manggabarani," kata Andi, Senin 13 September 2021.

Syamsul Kamar, selaku kuasa hukum Andi, menjelaskan kronologi hilangnya dana Rp 45 miliar itu.

Pada Februari 2021 kliennya Andi hendak mencairkan bilyet deposito miliknya. Namun, uang yang akan digunakan untuk kepentingan bisnis itu gagal dicairkan. Sementara, pihak bank tak dapat memberi penjelasan yang memuaskan ke mana dana milik nasabah. Pihak bank belakangan pun tak bisa mengembalikan dana Rp 45 miliar itu.

Maka, pihak Andi Indris balik melaporkan bank pelat merah tersebut ke Polda Sulawesi Selatan pada tanggal 9 Juni 2021.

“Pihak kami pada tanggal 9 Juni 2021 membuat laporan ke Polda Sulsel tentang adanya dugaan kejahatan yang dilakukan oleh manajemen bank,” kata Syamsul. 

Sementara itu pihak BNI menemukan kejanggalan terkait pencairan bilyet deposito beberapa nasabah di Makassar, Sulawesi Selatan. BNI mengungkap sejumlah temuan dalam kasus pemalsuan 9 bilyet deposito yang totalnya mencapai Rp 110 miliar. 

Kuasa hukum BNI, Ronny L. D. Janis menyebut, tim kuasa hukum BNI perlu mengklarifikasi kembali terkait dengan perkara dugaan pemalsuan bilyet deposito di BNI KC Makassar.

"Beberapa hal yang penting disampaikan adalah pada awalnya terdapat beberapa pihak yang menunjukkan dan membawa bilyet deposito BNI KC Makassar dan pada akhirnya meminta pencairan atas bilyet deposito tersebut kepada BNI KC Makassar," kata Janis dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa 14 September 2021.

 

Berdasarkan hasil investigasi BNI, Janis mengungkapkan, terdapat beberapa keanehan pada bilyet deposito beberapa nasabah. Dalam kasus di Makassar ini, seluruh bilyet deposito yang diklaim oleh beberapa orang nasabah hanya berupa cetakan hasil scan (print scanned) di kertas biasa dan bukan blanko deposito sah yang dikeluarkan oleh Bank. Berikut ditemukan kejanggalan-kejanggalan yang kasat mata:

1. Seluruh bilyet deposito hanya berupa cetakan hasil scan.

2. Seluruh bilyet deposito yang ditunjukkan RY, AN, HDK, dan HPT memiliki nomor seri bilyet deposito yang sama.

Bahkan nomor seri pada bilyet deposito atas nama PT AAU, PT NB, dan IMB tidak tercetak jelas, huruf kabur, atau buram.

3. Seluruh bilyet deposito tersebut tidak masuk ke dalam sistem bank dan tidak ditandatangani oleh pejabat bank yang sah.

4. Tidak ditemukan adanya setoran nasabah untuk pembukaan rekening deposito tersebut

 

Berdasarkan penjelasan Janis terkait runtutan kejadian tersebut, yakni pada awal Februari 2021, RY dan AN membawa dan menunjukkan dua bilyet deposito BNI tertanggal 29 Januari 2021 kepada bank dengan total senilai Rp 50 miliar.

Kemudian pada Maret 2021, berturut-turut datang pihak yang mengatasnamakan IMB membawa tiga buah bilyet deposito tertanggal 1 Maret 2021 atas nama PT AAU, PT NB, dan IMB dengan total senilai Rp 40 miliar. Lalu, HDK membawa tiga bilyet deposito atas nama HDK dan satu bilyet deposito atad nama HPT dengan total senilai Rp 20,1 Miliar.

"Yang disebutkan bilyet deposito tersebut diterima dari oknum pegawai Bank (MBS)," kata Janis.

MBS tak lain adalah pegawai BNI kantor cabang Makassar, yang jadi tersangka dalam kasus ini. MBS memiliki nama asli Melati Bunga Sombe. Dia menjabat di bagian pelayanan umum Bank BNI Makassar. Berdasarkan temuan BNI, pembayaran pun dilakukan tanpa melibatkan bank.

 

Demikian pula hal sama terjadi pada pengembalian dan penyelesaian klaim deposito kepada HDK sebesar sekitar Rp 3,5 miliar yang juga dilakukan secara langsung oleh MBS dan bukan dari bank, serta tanpa melibatkan bank.

"Hal-hal tersebut telah menunjukkan bahwa terkait penerbitan maupun transaksi-transaksi yang berkaitan dengan bilyet deposito tersebut, dilakukan tanpa sepengetahuan dan keterlibatan bank," kata Janis.

“Selanjutnya oleh MBS dan rekan bisnisnya, dana yang ada di rekening bisnis deposan ditarik, dan dalam waktu yang bersamaan disetorkan ke rekening yang sudah disiapkan oleh tersangka MBS dan kawannya, di antaranya terdapat rekening fiktif atau bodong,” ujar Helmy.

Atas dasar itu, BNI telah melaporkan peristiwa tersebut kepada Bareskrim Polri pada 1 April 2021 dengan dugaan Tindak Pidana Pemalsuan, Tindak Pidana Perbankan, dan Tindak Pidana Pencucian Uang. Langkah ini dilakukan guna mengungkap pelaku, pihak-pihak yang terlibat, dan para pihak yang memperoleh manfaat atau keuntungan.

Jalur hukum ini juga dilakukan agar dapat terungkap dan diproses hukum, serta mencegah berulangnya percobaan pembobolan dana bank dengan modus pemalsuan bilyet deposito tersebut. 

Dugaan sementara posisi tersangka di bagian pelayanan umum memberinya kemudahan untuk memiliki dokumen dan surat perjanjian pembuatan rekening deposito yang ternyata fiktif. Dokumen itu pun ditawarkan kepada korban.

Korban yang percaya kemudian menandatangani dokumen deposito fiktif itu dan terus menerus menyimpan uang itu sampai puluhan miliyar. Padahal, dokumen itu merupakan persetujuan pemindahan uang dari rekening korban ke rekening yang dibuat tersangka.

“Selanjutnya oleh MBS dan rekan bisnisnya, dana yang ada di rekening bisnis deposito ditarik, dan dalam waktu yang bersamaan disetorkan ke rekening yang sudah disiapkan oleh tersangka MBS dan kawannya, di antaranya terdapat rekening fiktif atau bodong,” kata Dirtipideksus Bareskrim Polri Brigjen Pol Helmy Santika, Selasa 14 September 2021.