Pengacara: Mereka Membunuh Diego Maradona

Kamis, 17 Juni 2021 – 11:45 WIB

Foto: NDTV.com

Foto: NDTV.com

San Isidoro, REQNews.com -- Rodolfo Baque, pengacara untuk seorang perawat yang diperiksa atas kematian legenda sepak bola Argentina Diego Armando Maradona, mengatakan dokter-dokter itu membunuh karena keahliannya.

"Mereka membunuh Diego Maradona," kata Baque kepada wartawan setelah perawat Dahiana Gisela Madrid, diinterogasi jaksa.

Baque adalah pengacara untuk Dahiana, satu dari tujuh orang yang diselidiki atas dugaan pembunuhan terhadap Maradonan. Penyelidikan dilakukan setelah dewan ahli menemukan bukti Maradona menerima perawatan tidak memadai yang berujung pada kematiannya.

Maradona dinyatakan meninggal akibat serangan jantung, November 2020, pada usia 60 tahun. Sepekan sebelum kematiannya, Maradona menjalani operasi untuk mengakhiri penderitaannya akibat pembekuan darah di otak.

Baque mengatakan kliennya tidak bisa disalahkan atas kematian Diego Maradona. Menurutnya, yang merawat Maradona setelah operasi otak adalah dokter, bukan kliennya.

"Maradona sedang dirawat karena masalah jantung, tapi pada saat sama menjalani pengobatan psikiatri yang mempercepat detak jantungnya," kata Baque.

Saat berada di rumah sakit, masih menurut Baque, Maradona terjatuh. Ketika Dahiana meminta pemindaian CAT, seorang ajudan Maradona menolak dengan alasan jika pers mengetahuinya itu akan terlihat buruk.

"Pada akhirnya, ada banyak tanda peringatan bahwa Maradona akan mati, dan tidak ada dokter yang melakukan apa pun untuk mencegahnya," kata Baque di sela-sela menamani kliennya.

Dahiana adalah perawat siang hari Maradona, dan salah satu orang yang melihat Maradona pada hari-hari terakhirnya.

Investigasi terhadap dugaan pembunuhan Maradona dibuka setelah lima anak Maradona mengajukan pengaduan terhadap ahli bedah saraf Leopoldo Luque yang dianggap lalai memperburuk kesehatan sang legenda setelah operasi otak.

Sebuah panel terdiri dari 20 ahli medis yang dibentuk jaksa penuntut umum Argentina mengatakan Maradona penuh dengan kekurangan dan ketidakberesan, dan tim medis menyerahkan kelangsungan hidupnya kepada takdir.

Jika terbukti bersalah, tujuh tersangka penyebab kematian Maradona menghadapi ancaman hukuman delapan sampai 25 tahun penjara.

Dahiana adalah salah satu orang yang menemukan Maradona tanpa tanda-tanda kehidupan. Ia mencoba memberi nafas buatan, dan melakukan semua yang dia bisa agar jantung sang legenda berdetak.

Sebelum Dahiana, Ricardo Almiron -- perawat malam Maradona -- yang pertama dari tujuh orang yang diinterogasi jaksa. Staf medis lain yang merawat Maradona akan diperiksa jaksa selama enam pekan ke depan.

Maradona berjuang melawan kecanduan kokain dan alkohol sepanjang hidupnya. Mantan bintang Boca Juniors, Barcelona, dan Napoli itu menderita gangguan hati, ginjal, dan kardiovaskular saat meninggal.