Nah Lho, Kemenkes Siap Uji Klinik Ivermectin, Obat Cacing yang Menjelma Jadi Obat COVID-19

Rabu, 23 Juni 2021 – 10:40 WIB

Ilustrasi obat Ivermectin (Foto: Istimewa)

Ilustrasi obat Ivermectin (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Kementerian Kesehatan baru akan memulai uji klinik penggunaan Ivermectin, yang nantinya akan dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbngkes) Kemenkes. Tujuannya untuk memastikan khasiat dan keamanan penggunaan Ivermectin untuk pengobatan Covid-19. 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa penggunaan Ivermectin diperbolehkan. Namun, harus dengan pengawasan dan resep dokter karena tergolong obat keras. 

"Uji klinik belum, baru akan mulai, tetap uji. Jadi ivermectin itu merupakan salah satu obat yang bisa digunakan dalam pengobatan Covid-19 berdasarkan penilaian dokter dan dalam pengawasan dokter, ya," ujar Nadia kepada wartawan pada Selasa 22 Juni 2021.

Meski demikian, Kemenkes belum bisa memastikan apakah penggunaan Ivermectin nantinya bakal diproyeksikan sebagai obat Covid-19 resmi dan didistribusikan secara massal di Indonesia. "Kita tunggu nanti perkembangan lanjutannya ya, karena izin edar bukan kewenangan Kementerian Kesehatan," katanya. 

Tetapi, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny K Lukito menegaskan izin edar obat Ivermectin yang dikeluarkan oleh instansinya bukan digunakan sebagai obat Covid-19, melainkan sebagai obat cacing.

Ia menyebut bahwa beberapa negara termasuk Indonesia mengindikasi bahwa Ivermectin dapat membantu penyembuhan pasien Covid-19. Namun, pihaknya belum bisa mengategorikan Ivermectin sebagai obat Covid-19.

"Setiap protokol pengobatan Covid-19 dikeluarkan oleh asosiasi profesi yang terkait dan Kemenkes. Selalu setiap obat. Apalagi Ivermectin ini obat keras," ujar Penny melalui konferensi video, Selasa 22 Juni 2021.

Menurutnya, Ivermectin yang digunakan tanpa indikasi medis dan tanpa resep dokter dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan efek samping. Antara lain nyeri otot/sendi, ruam kulit, demam, pusing, sembelit, diare, mengantuk, dan Sindrom Stevens-Johnson.