Stafsus Sri Mulyani Sebut Pembiayaan dari Utang Wajar, Rakyat Diminta Gotong Royong Melalui Pajak

Kamis, 01 Juli 2021 – 08:32 WIB

gambar ilustrasi

gambar ilustrasi

JAKARTA, REQnews - Staf Khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo mengatakan, pemerintah saat ini menghadapi dilema. Di saat butuh dana segar yang besar, tidak mungkin mengejar pajak. Padahal, masyarakat harus bertahan hidup di tengah krisis akibat pandemi Covid-19.

Itu sebabnya, ruang fiskal diperlebar sehingga mau tidak mau menambah utang. Menurutnya, utang yang diambil pemerintah untuk menjaga agar tidak semakin terpuruk. Meski begitu, Yustinus mengatakan porsi utang yang mencapai 41 persen sampai saat ini masih terkendali dan dikelola dengan hati-hati oleh pemerintah.

“Pembiayaan dari utang itu hal yang wajar. Yang penting jangan sampai jadi beban yang memberatkan dan harus produktif penggunaannya, bukan untuk konsumsi. Itu hal yang perlu kita jadikan pegangan,” katanya melalui diskusi virtual, Rabu, 30 Juni 2021.

Melalui cara tersebut, tambah Yustinus, pembiayaan negara bisa dijaga dengan baik sehingga harapannya terjadi imbal balik. Saat krisis pemerintah bekerja keras dengan segala ruang fiskal yang dipunya.

“Karena ekonomi ini pilar utamanya adalah mobilitas. Saat tertahan dengan Covid-19, maka langsung negatif. Saat ekonomi melambat, pajak akan turun. Padahal, belanja kita meningkat mengingat kebutuhan untuk mengatasi Covid-19,” ujarnya.

Meski demikian, sambung Yustinus, pemerintah sadar tidak boleh utang terus-menerus. Skenario tentu dipikirkan. Produk domestik bruto diyakini bakal tumbuh. Begitu pula dengan pajak melalui reformasi yang tengah disusun. Setelahnya ketika ekonomi pulih, rakyat gotong royong melalui pajak.