IFBC Banner

Padahal Utang sudah Menggunung, Pemerintah Mau Utang Lagi ke China Demi Operasikan Kereta Cepat

Kamis, 08 Juli 2021 – 19:00 WIB

Dokumen istimewa

Dokumen istimewa

JAKARTA, REQnews - Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pemerintah tengah bernegosiasi dengan China agar mendapat bantuan pinjaman.

Tujuannya, untuk memenuhi biaya pengoperasian awal Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). Sebab, kata Kartika, KCJB bakal mengalami cost deficiency (kekurangan biaya) operasi pada awal pengoperasiannya.

Dijelaskannya, pinjaman bisa diperoleh dari China Development Bank (CDB) dengan jaminan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Agar itu bisa terwujud, PT KAI nantinya akan diusulkan untuk mendapatkan jaminan dari pemerintah dengan pembentukan singking fund.

"Untuk kelangsungan usaha dalam konteks operasional cash flow negatif yang akan terjadi di awal-awal operasi ini, kita sedang skemakan dengan pembiayaan dari bank. Dalam hal ini China Development Bank," ujarnya dalam rapat di Komisi VI DPR, Kamis, 8 Juli 2021.

Selain cost deficiency, Kartika juga mengatakan proyek tersebut juga berpotensi mengalami pembengkakan konstruksi (cost overrun) sampai dengan US$1,4 miliar-US$1,9 miliar. Karena itu, pemerintah tengah bernegosiasi dengan China untuk menambal pembengkakan itu.

Ia menambahkan, pembengkakan terjadi akibat keterlambatan pembebasan lahan dan perencanaan yang terlalu optimis di awal.
"Kurang kuatnya manajemen proyek menyebabkan adanya potensi cost overrun pada proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung," ujar Mantan Dirut Bank Mandiri tersebut.

Kartika menyatakan, 75 persen dari cost overrun diasumsikan disetujui oleh pemegang saham (PSBI dan Bejing Yawan) serta CDB untuk dapat dicover melalui utang. "Pemenuhan biaya cost overrun akan dinegosiasikan dengan pihak China," tandasnya.