Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Sadis! Cerita Andrei Masukkan Anak Orangutan ke Koper di Bandara Bali

Kamis, 13 Juni 2019 – 10:30 WIB

Orangutan (Foto: Istimewa)

Orangutan (Foto: Istimewa)

BALI, REQnews - Andrei Zhestkov kini harus berurusan dengan hukum di Indonesia. Warga negara asing (WNA) asal Rusia tersebut didakwa menyelundupkan orangutan.

Andrei membawa satwa yang dilindungi tanpa dilengkapi dokumen dan surat izin. "Dengan sengaja melakukan pelanggaran dilarang menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup, " kata jaksa penuntut umum, A.A. Made Suarja Teja Buana di Denpasar, Bali, Rabu 13 Juni 2019.

Kasus ini bermula saat terdakwa tiba di terminal keberangkatan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Tuban dan melewati pemeriksaan x-ray. Setelah melewati pemeriksaan dideteksi keberadaan binatang monyet.

Saat diminta untuk membuka koper tersebut, terdakwa menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan. Untuk itu, dilakukan pemeriksaan ulang x-ray dan didapati bahwa di dalam koper tersebut adalah seekor anak orangutan.

Kemudian, petugas KSDA dan KP3 datang dan membuka koper tersebut dan ditemukan satwa liar berupa anak orangutan dalam keadaan tidak sadar. Atas perbuatannya, terdakwa langsung diamankan oleh petugas.

Terdakwa mengaku bahwa yang memiliki satwa berupa orangutan itu adalah temannya yang bernama Igor, yang kini masuk daftar pencarian orang. Selanjutnya terdakwa diminta membawa orangutan tersebut ke bandara.

Selain itu, sehari sebelum satwa dibawa terdakwa juga diajarkan cara agar satwa liar itu tidur saat dalam perjalanan dengan memberikan obat tidur, berupa tablet warna kuning sebanyak satu tablet dan lima tablet yang diberikan oleh Igor.

Dengan begitu, saat satwa tersebut tertidur dan langsung diletakkan di atas keranjang dengan ditutupi dua piring rotan. Atas perbuatannya, Andrei itu didakwa dengan dua pasal, yaitu pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf (a) UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang KSDAH dan Ekosistem dan/atau Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf (c) UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang KSDA dan Ekosistem.

Persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Bambang Ekaputra dilanjutkan dengan menghadirkan saksi oleh jaksa. Saksi berasal dari pihak Petugas Karantina dan petugas bandara Ngurah Rai yang pada saat kejadian sedang melaksanakan tugas. (KIY)