Polri: Pelaku Penembakan 9 Korban Tewas Kerusuhan Mei Bisa Saja Aparat

Kamis, 13 Juni 2019 – 18:30 WIB

(Foto: Istimewa)

(Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Misteri siapa pelaku pelaku penembakan yang menewaskan 9 orang dalam kerusuhan 22 Mei 2019 masih menjadi tanda tanya besar masyarakat. Identitas pelaku pun belum bisa dipastikan, bahkan Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal justru menyatakan jika semua pihak bisa dicurigai. Termasuk aparat sendiri.

Namun Iqbal pun meminta publik tak menyalahartikan ucapannya terkait kemungkinan bahwa pelaku penembakan adalah aparat. Dirinya meminta publik memahami bahwa perusuh yang menyerang aparat, baik yang sedang bertugas mengamankan maupun yang berada di Asrama Brimob Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Barat.

"Yang lain kita belum tahu siapa. Bisa saja dari petugas. Tolong dipahami, jangan diambil celah dari pembicaraan ini, bahwa saya mengatakan petugas. Tapi bisa saja petugas itu bukan dari personel pengamanan. Bisa saja petugas nontugas yang diserang, dijarah, dibakar saat ada (serangan) asrama (Brimob) Petamburan, ada instalasi-instalasi polisi yang diserang. Kan bisa saja (menembak) itu untuk (keselamatan) anak-anaknya, istrinya. Itu sedang didalami," ujar Iqbal di Jakarta, Kamis 12 Juni 2019.

Diberitakan sebelumnya, polisi mengaku ada hambatan dalam mengungkap tewasnya 9 orang dalam kerusuhan 22 Mei. Salah satunya belum bisa menentukan tempat kejadian perkara (TKP) tewasnya para korban.

"Untuk menentukan kejadian peristiwa seperti ini, bagaimana kita harus mengolah TKP-nya. Sementara salah satu hambatan adalah secara keseluruhan belum diketahui TKP-nya ada di mana. Tidak secara keseluruhan kita mengetahui di mana TKP terjadinya hal yang menyebabkan meninggal dunia tersebut," jelas Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra.

Asep menuturkan penentuan TKP sangat penting karena dari situlah polisi mengembangkan penyelidikan, seperti mencari saksi mata serta mendalami apa yang didengar-dilihat-dialami saksi. Dari TKP pula, lanjut Asep, polisi dapat menganalisis tembakan yang membuat korban tewas.

"Kita harus berangkat dari olah TKP. Oleh karenanya, kita harus tahu dulu TKP-nya di mana. Dari situ kita mengembangkan saksi yang lihat, tahu, dan dengar. Kemudian karena ini meninggal yang diduga akibat peluru tajam, maka kita harus tahu bagaimana arah tembak, jarak tembak, dan sebagainya," kata Asep. (RYN)